ADAT LAOT, SUMBER MOTIVASI/ EDUKASI BUDAYA ADAT ACEH MEMBANGUN EKONOMI RAKYAT DAN TANTANGAN MASA DEPAN

by Admin
img

Oleh: Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum

Disampaikan pada: Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir “Khanduri Laot Festival 2018” Sabang, 27 April- 1 Mai 2018.


 1.BUDAYA ADAT ACEH, SUMBER DIMENSI MANFAAT BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT MASA DULU, KINI DAN MASA DEPAN “Matei Aneuk mupat jeurat, gadoh adat pat ta mita” “Sigoe meugantoh bak jeut keu-ubat, Dua lhee goe silap akan binasa” “Na keureuja, na peu pajoeh, asai utoeh ta baca tanda”  Ada 6 (enam) dimensi manfaat dalam Budaya Adat Aceh: Dimensi ritualitas/agamis/ magic adalah suatu himpunan prilaku adat yang sarat dengan nilai-nilai tatanan adat/ adat istiadat, yang berorientasi penuh kepada nilai-nilai syari’at/ Islam(setiap upacara adat diiringi dengan doa).


Dimensi ekonomis/ berorientasi kepada kebutuhan hidup sebagai dinamika adat/ adat istiadat yang mengandung nilai-nilai motivasi kehidupan ekonomi melalui kreativitas individu dan masyarakat untuk berta’arafu antar sesama( marketing kehidupan) Dimensi pelestarian lingkungan hidup, menumbuhkan nilai-nilai motivasi kebiasaan/ adat dalam mendorong semangat untuk membangun lingkungan, bagi kelanjutan kehidupan generasi (penghijauan/ menanam, pemanfaatan berkelanjutan/ investasi). Dimensi hukum (norma/ kaedah) melahirkan suatu produk hukum masyarakat (aturan/ tata prilaku yang hidup dan berkembang)dalam penyelesaian berbagai sengketa Dimensi konpetitif, tumbuhnya sikap motivasi/ inovasi prilaku mendorong kebanggaan/ keunggulan dan identiatas harkat dan martabat diri/ keluarga, daerah untuk dapat berkompetisi/ bersaing merebut pasar dunia global Dimensi identitas, menjadi amat penting sebagai potensi membangun produk keunggulan nilai-nilai budaya adat Aceh (made in Aceh) menjadi standar harkat martabat bangsa dalam peradaban dunia (World ’s civilization)


2. ADAT LAOT : Salah satu Sumber Produk Budaya Adat Aceh, Dalam Membangun Kemakmuran Kahidupan(“Alam Rahmatan lil-’Alamin: Allah jamin, nyoe na usaha, rezki teuka”) Berbicara tentang Adat Laot, ada tiga sisi pendekatan yang dilakukan, yaitu pemahaman: “budaya”, “adat”, dan kaitannya dengan “Syari’at”, sbb: Budaya: adalah buah pikiran, akal budi yang muncul berproses, akibat interaksi dengan wilayah lingkungan dan ruang waktu, yang penuh dinamika proses pikiran kontemporer, budaya ideal untuk menjangkau masa depan, dengan solusi menuju “ hasil nilai budaya “ untuk dinikmati, bermanfaat dan menjadi acuan standar harkat/ martabat masyarakat dalam mewujudkan bangunan peradaban (civilization)=( Bad).


Adat/ adat istiadat adalah suatu proses interaksi antar manusia (personal/ kelompok) karena arus dinamika, untuk mensolusikan persoalan kebutuhan/ larangan dalam membangun kehidupan komunal, menjadi kebiasaan dan norma hukum (adat/ adat istiadat) sebagai pedoman (Bad) Syari’at : adalah setiap ketentuan/ produk yang bersifat berbuat baik bagi manfaat anusia, tidak merusak/ merugikan orang lain dalam bingkai amar ma’ruf dan nahi mungkar, berlandaskan rukun Islam dan rukun Iman (Bad) Adat Laot adalah : Adat/ istiadat yang berlaku di laot (dalam batasan wilayah jangkauan adat), berkaitan dengan segala perangkat (Pawang laot beserta ABK), peralatan, tata aturan (adat), wewenang wilayah), dalam hubungan mencari/ menangkap ikan sebagai sumber ekonomi rakyat.


3. PERANAN NELAYAN DAN PENGARUH TATANAN ADAT LAOT MERUPAKAN FAKTOR DOMINAN DALAM PENATAAN PEMBINAAN NELAYAN DI ACEH


Menurut Denys Lombard :Orang Aceh yang paling dahulu ditemukan bangsa Eropa, ialah Nelayan yang lalu lalang di teluk diatas perahu mereka yang bercadik dua. Pada 2 Juni 1602, kata Lancaster: kami membuang sauh di teluk, beberapa orang di negeri itu naik ke kapal kami dari perahu mereka, yang lebih besar, dengan cadik di sebelah. Menangkap ikan merupakan bagian penting dalam kesibukan orang Aceh. Orang menangkap ikan lebih kaya dari orang lain (Syamsudin Daud, 9:2014) Pertanyannya, bagaimana Nelayan Aceh sekarang? (tidak punya data) Dalam kenyataan dari aspek adat, berkaitan dengan perangkat adat, seperti Pawang laot dan anak buahnya,Peralatan penangkapan ikan, serta manajemen pengelolaan (pelatihan personil, administrasi personal/ sistem jaminan hidup, masih konstan(minim perubahan). Sekarang mmenggunakan alat-alat canggih/ teknologi , ilmu pengetahuan/ manajemen modern Hal yang sangat menonjol adalah tentang pemberlakuan Hukum Adat Laot, terhadap berbagai kasus, sangat dominan (dan pasti), artinya hampir tidak ada kasus berkaitan dengan adat laot yang digiring ke Pengadilan. NGO-NGO asing dan penegak hukum, sangat respon terhadap berlakunya hukum adat, meskipun sebagian besarnya belum tertulis, padahal masalah sengketa dan kawasannya merupakan pusat sumber kegiatan ekonomi. Suatu hal yang harus di bangun dari aspek hukum adat dan Ketata negaraan (istimewa/ khusus/ lex specialis), bahwa wilayah-wilayah pesisir pantai, umumnya masuk wilayah otonomi Mukim(Imeum Mukim/ Penguasa daerah), sedangkan Penglima Laot dan Adat Laot itu menyangkut kewenangan pengelolaan usaha perikanan, karena itu Imeum Mukim harus dilibatkan dalam pembinaan masyarakat adat, seperti Khanduri Llaot dan penyelesaian sengketa adat laot.


4. Beberapa Ilustrasi Sumber Budaya Adat Aceh dari Sisi Manfaat Motivasi/ Edukasi Ekonomi Rakyat “Nyoe jeut ta peulaku, boh labu jeut keu asoe kaya. Hanjeut ta peulaku aneuk teungku jeut keu beulaga” Mengacu kepada kebiasaan/ adat/ adat istiadat (dalam Budaya Adat Aceh), maka pandangan pertama yang kita temukan adalah banyak sekali bentuk-bentuk adat Aceh yang hidup dan berkembang dalam masyarakat sampai sekarang (kaya multikultural, hidup terkawal, terbina sampai era (Global/ Now ?). Mengapa? karena nilai-nilainya (valuenya) hidup dinamis, bermanfaat, ekonomis dan universal . Formatnya dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan zaman (yakin, termasuk zaman now). Kecuali runtuhnya identitas budaya/ daya nalar berpikir, sinkronisasi dengan teknologi, saien (IT) dan kehilangan spirit, tidak kreatif dalam motivasi, edukasi dan inovasi sebagai kebangsaan bangsa (etnis) untuk membangun keunggulan (kompetitif). Jelasnya bila tidak mau kerja keras dan hanya pandai meniru, mengembek menjadi jongos/ agen bangsa lain. Karena itu sekali-sekali perlu merenung pesan Rosevelt (Presiden Amerika: Small mind, discuss people, Everage mind, discuss event , Great mind, discuss idea’s) Betapa hebatnya pemikir-pemikir Aceh dulu, melahirkan berbagai produk adat budaya,menjadi sumber inspirasi motivasi dan edukasi/ pendidikan untuk membangun kehidupan ekonomi rakyat, seperti lapangan : Persawahan pertanian, Peternakan ada Keujruen Blang, Kebun, Hutan, gunung, bukit, lembah, ada Petua Seuneubok, Pawang Glee/ Huteun, Pawang Rusa, Pasar ada Haria Peukan, Pelabuhan Laut/ sungai ada Syahbandar dan Pesisir laot/ ikannya ada Panglima laot/ Khanduri laotnya. Semua itu masih sangat relevan/ up to date(berlaku sampai sekarang/ zaman Now) Karena itu, berbagai nilai-nilai adat lainnya, seperti Peusijuk, menjadi motor penggerak adat alam, seperti :Peutron aneuk, antat aneuk bak beuet, buka lampoh, sunnaturrasul, moulud, meugang, hari peukan dan banyak sekali lainnya. Pada hakekatnya kegiatan-kegiatan/ lembaga adat penuh dengan nilai-nilai ekonomi dan edukasi untuk kepentingan kemakmuran rakyat.


5. ADAT LAOT; NILAI-NILAI MOTIVASI DAN EDUKASI YANG DINAMIS KONTEKSTUAL MEMBANGUN MASYARAKAT PESISIR Dalam pembahasan dengan Adat Laot, bahasannya khusus berkaitan Panglima laot dan Khanduri laot, sbb: Panglima laot atau nama lain adalah orang yang memimpin dan mengatur adat istiadat di bidang pesisir dan kelautan. (Pasal 1 angka 20, Qanun No.10 Tahun 2008) . Pasal 27 menegaskan : Panglima Laot atau nama lain terdiri dari : Panglima Laot lhok atau nama lain; Panglima Laot kabupaten/kota atau nama lain; dan Panglima Laot Aceh atau nama lain. Panglima laot lhok atau nama lain, dipilih oleh pawang-pawang boat lhok atau nama lain masing-masing melalui musyawarah. Panglima Laot kab/kota atau nama lain dipilih dalam musyawarah panglima laot lhok atau nama lain. Panglima Laot Aceh atau nama lain dipilih dalam musyawarah panglima laot kab/kota atau nama lain. Khanduri Laot adalah perjamuan makan di pesisir laut (yang lazimnya di dahului oleh zikir, doa dsb) karena sesuatu tujuan keagamaan (minta berkah, mendoakan orang yang telah meninggal (arwah), memperingati sesuatu peristiwa, memperkuat silaturrahim, kebersamaan), selamatan yang diadakan di siang hari, dengan mengharapkan ridha Allah SWT untuk kemudahan rezki dan kemakmuran. Khanduri laot juga merupakan salah satu instrumen/ sarana dakwah/ relegius dalam memperkuat hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia. Upacara demikian sangat memberikan nilai-nilai motivasi dan edukasi kepada masyarakat, dalam mempelajari alam mengambil manfaat sebagai Rahmatan lil-’Alamin begi rakyat. Dari segi edukasi Metode Khanduri laot ini juga merupakan salah satu metode langsung bernilai ganda dan sangat sikologis dalam mengajak rakyat untuk menggapai sesuatu. Dengan demikian terlihat jelas bahwa Adat laot/ Khanduri laot, penuh dengan nilai-nilai motivasi dan edukasi untuk membangun kemakmuran rakyat, yang penuh dengan nilai-nilai agamis, sikologis, komunal dan bertatanan nilai-nilai musyawarah/ mupakat.


6. ADAT LAOT : SANGAT KAYA NILAI-NILAI EKONOMI KERAKYATAN (EKONOMIC VALUE) SEBAGAI MODAL POTENSIAL, SIAP BERKIPRAH DI ERA TANTANGAN ZAMAN ADAT LAOT termasuk salah satunya KHANDURI LAOT.adalah satu kesatuan yang sangat potensial sepanjang sejarah kehidupan rakyat(masyarakat) Aceh. Terbukti begitu penting pengelolaan upaya potensial mencari ikan, hampir tak ada kasus/ sengketa yang masuk pengadilan negeri, dibanding bidang-bidang sumber ekonomi lainnya. Karena itu persolan utama adalah bagaimana peningkatan manajemen menggali dan mengolah pembinaannya dalam hubungan Kota Sabang dalam sistem Free port dan Pemerintahan Umum yang secara khusus dari aspek Pariwisata (destination off turisme, masa kini dan kedepan. Beberapa hal perlu kita cermati, sbb:


1. Peran Pemerintah untuk membina manajemen pengelolaan Adat Laot/ Pawang laot, dalam hal organisasi, kebersamaan, administrasi, pelatihan skill pimpinan dan anak buah kapal, pengadaan dan perawatan peralatan, jaminan sosial/ hari depan, menjadi suatu kewajiban. Dasar hukum perintah UU Negara: seperti UUD.45 Pasal 18 B, ayat (1) dan (2), UU.No.44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh, UU.No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, UU, No.6 Tahun 2014 tentang Bantuan Desa, UU,No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Budaya, Keputusan MK.No.35 Tahun 2012, Permen Kemendagri, Qanun dan Pergub Aceh tentang Pengkajian dan Pelestarian Adat, sangat kuat: ada perintah(amar) untuk mendukung dan membangun kehidupan adat budaya (termasuk perintah dukungan Anggaran. Apalagi Nilai-nilai Adat Budaya menjadi sumber pembangunan disnation Pariwisata.


2. Menentukan secara konkrit wilayah laot nelayan adat dan tatanan kewenangan Panglima laot dan hukum adatnya dan membangun hubungan koordinasi dengan Imeum Mukim, Keuchik tentang wewenang selaku Kepala daerah (otonomi) kultural dan yuridis (Qanun Mukim dan Qanun Gampong)


3. Panglim laot dengan adat laot dan khanduri laot atas kerjasama dengan Pemda, BPKS, intansi Pemerintahan lainnya saling membangun even/ festival/ peukan kebudayaan secara berkala dan terjadwal, memanfaatkan nilai-nilai adat budaya khanduri laot dan lainnya, perlombaan perahu, perlombaan memancing da lain-lain. Perlu juga diolah dan diatata kembali dengan kualitas dan format yang baik berkaitan dengan makanan pasar pagi/ siang nelayan pesisir / laot, seperti ; Kopi tubruk, timphan leugoo’, pulot, bu lukat uu/ gula, pisang rebus, bada goreeng, bubur kacang hijau/ jagung, meurajut pukat, celup pukat (Promosi makanan pantai). Tempat promosi makanan , sederhana, seni, indah dan bersih (warna/warni) dan ada tempat toilet/ tandas (bhs Aceh, selain bagan tak ada).Untuk ini perlu dididik/ diberi pelatihan kepada ibu-ibu (daerah kawasan nelayan) setempat masing-masing (Hak mengelola, bukan hak meuraheung). Pengawasan keamanan dan kebersihan lingkungan/ perawatan kenyamanan pesisir dapat kerjasama dengan ibu-ibu masyarakat setempat (sain of bilonging).


 


Share this article