Beberapa Catatan Tentang Kearifan Lokal Masyarakat Aceh

by Admin
img

BEBERAPA CATATAN TENTANG  

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ACEH[1]

Drs. Nurdin AR, M.Hum[2]

 

I

 

Kearifan lokal (local wisdom) didefinisikan sebagai suatu kebijakan hidup, pandangan atau cara hidup yang bijak yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi baik melalui tradisi lisan, seperti pepatah, hadih maja, pribahasa, ungkapan, dan cerita rakyat,  maupun melaui tradisi tulis, seperti manuskrip, dan benda-benda pakai (etnografika).

Kearifan-kearifan lokal suatu daerah kadang tidak hanya menjadi kebijakan di daerah lahirnya, tetapi diadopsi ke daerah lain sehingga menjadi kearifan lintas daerah dan suku bangsa, atau bahkan lebih dari itu, menjadi kearifan bangsa dan kebijakan Nasional suatu bangsa.  

Bagi masyarakat Aceh yang menganut agama Islam, maka agama, budaya, dan kearifan lokalnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kesehariannya. Semboyan Adat ngon hukom lagee zat ngon sifeuet merupakan cerminan bahwa bagi masyarakat Aceh adat-budaya, termasuk di dalamnya kearifan lokal dan hukum-Syariat Islam adalah satu, seperti zat dan sifat, tidak dapat dipisahkan dan berlaku bolak-balik. Hal ini disebabkan karena sesungguhnya budaya Aceh pada dasarnya berazaskan hukum Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits.

Keberadaan adat-budaya dan kearifan lokal akan mendapat legitimasi dari masyarakat jika berazaskan nilai-nilai dan norma keislaman. Karena itu, sebagai bagian dari budaya maka kearifan-kearifan lokal masyarakat Aceh mustilah bernafaskan ajaran dan nilai-nilai agama Islam, dan karena itu pula bukanlah kearifan lokal masyarakat Aceh apabila bertentangan dengan hukum Islam dan tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadits.

Lalu bagaimana kalau kearifan lokal ada yang terasa tidak sesuai dengan hukum Islam, maka tentu ia sudah mendapatkan legitimasi para ulama, baik dengan cara islamisasi bagi kearifan-kearifan lokal pra-Islam  dengan memasukkan ruh Islam ke dalamnya tanpa mengubah bentuk dan perlakuannya, seperti pada karya-karya sastra, upacara-upacara daur hidup (lahir, kawin, dan mati), tarian-tarian (tari Pho bagian dari upacara kematian), kenduri atau persembahan kepada dewa-dewi kesuburan dan


[1] Makalah disampaikan pada Seminar Kontekstualisasi Kearifan Lokal dan Tradisi Keislaman di Aceh yang dilaksanakan oleh Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry 5 November 2015 di Aula Pascasarjana Lt. 3 UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

[2] Dosen Tetap Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ketua Bidang KP2 MAA.


kemakmuran tetap saja dalam bentuk dan perlakuan lama, tetapi bacaan mantra-mantra yang biasanya menyertai cerita dalam karya sastra dan upacara-upacara tersebut diganti dengan membaca Bismillah, membaca Al-Quran, tahmid, tahlil, doa, dan shalawat kepada Rasulullah SAW. Demikian juga kebiasan-kebiasan bijak yang dianut  oleh masyarakat muslim Aceh, tumbuh dan mengkristal menjadi kearifan lokal islami yang dihasilkan melalui penafsiran Al-Quran dan hadits, keputusan ijma’ dan qias, serta ijtihad-ijtihad cemerlang para ulama dan cendekia.    

 

II

Kearifan lokal dalam masyarakat Aceh sangat kaya dan meliputi berbagai aspek kehidupan, seperti budaya, politik dan pemerintahan, ekonomi dan mata pencaharian, sosial dan kemasyarakatan, ibadah dan muamalah, pendidikan, konservasi alam dan lingkungan, dan lain-lain. Karena kearifan lokal mencakup segenap gerak kehidupan masyarakat Aceh yang sangat luas, dan tidak mungkin semuanya dibicarakan dalam kertas kerja ini, maka pada kesempatan ini hanya dikemukakan kearifan lokal dari aspek budaya saja dengan dua contoh sebagai berikut.

 

1.         Proteksi dan Penghormatan Perempuan

Kedudukan kaum hawa dalam masyarakat Aceh dipandang lebih tinggi karena kaum hawa merupakan “per-empu-an” atau orang yang mengampu, memproduksi, atau memiliki. Kaum hawa adalah perempuan sebagai subjek, bukan wanita yang “wani ditata”  dan merupakan objek. Karena itu, perempuan haruslah diproteks, dilindungi, dan dihormati. Budaya Aceh memproteksi dan menghormati perempuan  sejak lahir hingga ke liang lahat. Proteksi terhadap perempuan dalam masyarakat Aceh, misalnya diekspresikan dengan memakaikan perhiasan “Cupeng” pada anak balita perempuan yang berfungsi juga sebagai penutup auratnya meskipun ia tidak berpakaian. Di pihak lain, bagi perempuan remaja dan  dewasa, melengkapi pakaian mereka dengan kancing baju emas “Boh Dokma”, sejenis perhiasan dada seperti gasing telungkup di mana bagian yang runcing menghadap ke depan yang berfungsi di samping sebagai perhiasan, juga menjadi senjata kejut kalau-kalau ada lelaki jalang yang mengganggu. Di samping itu, bentuk ekspresi lain dalam mengangkat martabat perempuan, isteri-isteri dalam masyarakat Aceh meskipun sudah tidak berpakaian lagi di tempat tidur bersama suami,  masih juga memakai perhiasan berupa tali pinggang yang melekat pada badannya[1] guna menimbulkan effeks erotis bagi suaminya. Kecantikan isteri yang sesungguhnya menurut Islam adalah untuk suami, bukan untuk yang lainnya. Prinsip berpakaian orang Aceh dengan berbagai tujuan, keadaan, dan fungsinya ditanamkan melaui memori kolektif masyarakat, misalnya  dengan ungkapan:

·         peue ka peulhon aneuk keuh, meusikrek beuneung tan”, yang berarti “mengapa (ekspresi kemarahan) kamu biarkan anakmu telanjang bulat, tanpat pakaian seutas benang pun?” Ungkapan ini bermakna bahwa orang Aceh, meski anak kecil sekalipun harus berpakaian, dan kalaupun terpaksa harus telanjang, tidaklah boleh telanjang bulat, kecuali melekat pada badannya walau seutas benang. Prinsip ini dipelihara kelestariannya dengan pernyataan-pernyataan lain yang mengancam dengan mara yang akan terjadi bila dilanggar, seperti “bek teulhon abeh, jitamong jen” yang artinya “jangan telanjang bulat, bisa masuk jin”. Pelestarian prisip keharusan berpakaian tersebut juga menjadi kearifan masyarakat Aceh  dengan menyediakan “ija rhah” atau kain basahan di kamar mandi, yang berarti dalam keadaan sendiri dan tertutup sekalipun aurat harus dijaga. 

·          “Gho bagho, tika eh tika ceumeulho”, yang bermakna “Sembrono (tidak pada tempatnya), tikar tempat tidur jadi tempat perontokan padi”. Ungkapan ini bermakna bahwa dalam berpakaian (termasuk memakai perhiasan) seseorang haruslah sesuai dengan tempat, suasana, dan fungsinya.

·         ngon gob bahie, ngon lakoe khie”, yang berarti “ bersama orang lain (di luar rumah) cantik, bersama suami bau tengik”. Ungkapan ini bermakna bahwa perempuan Aceh haruslah cantik (bahie: bahenol) bersama suaminya, guna menjaga kasih sayang dan kebahagiaan suami isteri.

Demikian juga, proteksi dan penghormatan terhadap perempuan  tidak saja diekspresikan dalam kehidupannya di dunia, tetapi juga sampai ke kuburan.  Hal ini misalnya terlihat pada kuburan putri-putri Pasai, di mana nisan-nisannya terbuat dari batu pualam yang indah-indah sementara kuburan para raja hanya bernisan batu biasa.   



[3]  Bahan: benang, perunggu, perak, atau emas: sesuai kemapuan, dan bentuk: untuk bahan logam biasanya berupa taloe keu-ieng puta taloe dan taloe keu-ieng bungong jambee 


1.         Konservasi Nisan dan Manuskrip

Dalam masyarakat Aceh ada kebiasaan orang yang bernazar kapada Allah mengenai sesuatu yang diharapkan bahwa ia akan memberikan dua hasta kain putih (dua haih ija puteh) atau lebih untuk membalut nisan pada kuburan raja, pemimpin, atau ulama yang dianggap keramat kalau harapannya tercapai. Di samping itu, ada kebiasaan membungkus manuskrip-manuskrip (terutama manuskrip Al-Quran) dengan kain putih dan kemudian secara berkala manuskrip-manuskrip tersebut diasap-asapkan (Aceh: hanggang) dengan asap kemeyan secara berkala, yang dijalankan dengan penuh takzim oleh para pewarisnya secara turun temurun yang barangkali juga tidak mengerti apa tujuannya.

Kedua hal tersebut terasa berbau khurafat dan tidak sesuai dengan ajaran Islam sehingga sering mendapat tantangan dari pemuka-pemuka agama karena pekerjaan tersebut dianggap syirik. Kalau dilihat dari perlakuannya memang kedua hal tersebut sepertinya pekerjaan syirik, tetapi di balik semua itu sesungguhnya terkandung anjuran konservasi artefak-artefak (batu nisan) penting bagi bukti sejarah dan manuskrip-manuskrip yang berisi berbagai nilai ruhani, ilmu pengetahuan, dan kearifan yang bernilai up to date bagi kehidupan dunia dan akhirat dalam rangka mempertahankan keberadaannya.

Batu-batu nisan lama yang dibungkus dengan kain putih sepanjang umurnya ternyata tidak pernah berjamur, keropos, atau rusak karena pengaruh cuaca. Demikian juga manuskrip-manuskrip yang dibungkus kain putih dan secara berkala dihanggang dengan asap kemeyan secara teratur ternyata dapat melintasi masa berabad-abad, lebih tahan dari kerusakan karena binatang, jamur, dan cuaca, dan lebih panjang umurnya daripada manuskrip-manuskrip yang diawetkan dengan bahan-bahan lain atau disimpan begitu saja dan diabaikan.

Konservasi batu nisan dan manuskrip dengan bungkusan kain putih, atau konservasi manuskrip dengan menghanggangnya dengan asap kemeyan tentu akan terputus apabila pewaris dari keturunan langsung pemiliknya sudah tidak ada. Karena itu, agar terjaminnya upaya konservasi perlu pelibatan masyarakat, dan untuk pelibatan masyarakat dibentuklah wacana umum dengan berbagai ekspresi, seperti bernazar, atau mengadakan kenduri syukuran yang disertai pembacaan tahlil, doa, dan salawat kepada Rasulullah SAW pada  kuburan orang-orang yang menjadi ikutan masyarakat, yang kemudian menjadi tradisi yang berefek positif bagi konsevasi artefak-artefak penting bagi sejarah masyarakat pendukungnya.

Dampak positif dari kedua tradisi konservasi artefak tersebut di atas dapat ditemukan pada beberapa makam kono yang batu nisannya berbungkus kain putih atau jiratnya diberi kelambu, seperti kuburan Poteu Meureuhom Daya (pada batu nisan kuburanya terbaca “As-Suthanu ‘s-Salathin ‘Alau ‘d-Din Ri’ayat Syah ibnu ‘s-Sulthan ‘Inayat Syah ibnu Abdi ‘l-Lahi ‘l-Maliki ‘l-Mubin”) di Lamno yang berumur 507 tahun, makam Teungku Syiyah Kuala atau Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Jawy Al-Fansury As-Sinkily (pada batu badan jiratnya masih terbaca “Al-Waliyyul Mulki Al-Haj Asy-Syeikh Abdurrauf bin Ali”) di Kuala Aceh yang saat ini berumur 322 tahun, makam Teungku di Anyong (Sayid Abubakar bin Husein Bil-Faqih) di Gampong Jawa, dan lain-lain  di mana nisannya seakan baru saja selesai dibuat, tanpa cacat, dan manuskrip-manuskrip dengan kondisi “prima” yang terkumpul di Museum Aceh dari para pewaris yang mengurusnya dengan cara tersebut di atas.          

 

III

 

Bahwa kearifan lokal adalah kebijakan adat suatu tempat yang terbentuk dari kristalisasi kebiasaan baik dan bernilai luhur bagi kemaslahatan masyarakat. Kearifan lokal diwariskan baik melalui tradisi lisan, seperti pepatah, hadih maja, pribahasa, ungkapan, dan cerita rakyat, maupun melalui tradisi tulis, seperti manuskrip dan benda-benda pakai atau etnografika.

Bagi masyarakat Aceh yang menganut Agama Islam, agama, budaya, dan kearifan lokalnya adalah satu, seperti zat dan sifat, sebagaimana terungkap dalam semboyan Adat ngon hukom lagee zat ngon sifeuet, tidak dapat dipisah-pisahkan, dan berlaku bolak balik. Kearifan lokal masyarakat Aceh berazaskan Al-Quran, hadits, ijmak dan qiyas. Karena itu, keberadaan kearifan lokal masyarakat Aceh sejalan dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam. Sebaliknya, kalau terasa tidak sesuai, maka tentulah ia sudah mendapatkan legitimasi para ulama yang berakar pada penafsiran keempat sumber hukum Islam tersebut di atas.

Kearifan lokal masyarakat Aceh mencakup segala aspek kehidupannya, seperti aspek budaya, politik dan pemerintahan, ekonomi dan mata pencaharian, sosial dan kemasyarakatan, ibadah dan muamalah, pendidikan, konservasi alam dan lingkungan, dan lain-lain. Dari aspek budaya ada kearifan lokal yang berkaitan dengan proteksi dan penghormatan terhadap perempuan yang diekspresikan dalam bentuk memelihara aurat perempuan sejak usia dini (balita) berupa pemakaian perhiasan Cupeng  yang berfungsi ganda dan dimaksukan juga sebagai penutup alat genitalnya ketika ia tidak berpakaian. Sementara untuk perempuan remaja dan dewasa melengkapi pekaiannya dengan kancing baju emas Boh Dokma  yang sesungguhnya juga berfungsi ganda sebagai senjata kejut guna menjaga kehormatannya dari gangguan lelaki jalang. Demikian juga guna mengangkat martabat perempuan, para isteri menjaga daya tarik dan efek erotis bagi suaminya di kamar tidur dengan memakai perhiasan tali pinggang yang melekat pada badannya dengan prinsip kecantikan hanya untuk suami. Ketiga hal tersebut di atas erat kaitannya dengan prinsip berpakaian orang Aceh, bahwa menutup aurat merupakan keharusan walau terpaksa dengan seutas benang sekalipun, berpakaian harus sesuai tempat, suasana, dan fungsinya, dan bagi isteri kecantikan yang utama haruslah dipersembahkan kepada suaminya. Penghormatan kepada perempuan tidak hanya diekspresikan di dunia, tetapi juga sampai ke kuburannya, seperti tercermin pada makam putri-putri Pasai yang berpuasara pualam indah, berbalik dari pusara para raja yang bernisan batu-batu biasa.

Kearifan lokal masyarakat Aceh lainnya terlihat pada upaya konservasi nisan dan manuskrip, terutama manuskrip Al-Quran dengan kain putih dan asap kemeyan yang seakan berbau khurafat dan bertentangan dengan ajaran Islam. Tradisi bernazar dengan memberi kain putih pada nisan kuburan jika harapannya tercapai dijalankan oleh masyarakat atas wacana kekeramatan raja, pemimpin, atau ulama, dan menyimpan menuskrip dalam bungkusan kain putih, serta secara berkala menghangangnya dengan asap kemeyan merupakan tradisi yang dijalankan oleh para pewarisnya dengan takzim bahkan tanpa tahu maksudnya. Perlakuan-perlakuan tersebut sesungguhnya menjadi tradisi karena mengandung maksud terselubung akan pentingnya pelestarian artefak-artefak penting bukti sejarah yang harus menjadi tanggung jawab bersama. Efek positif dari kearifan lokal ini terbukti hasilnya, di mana nisan-nisan di Lamno, Syiyah Kuala, dan Gampong Jawa yang dibungkus kain putih bisa bertahan lintas zaman tanpa kerusakan, dan manuskrip-manuskrip yang berisi nilai ruhani bangsa dan berbagai ilmu pengetahuan dapat terpelihara secara baik dan keberadaannya bertahan hingga saat ini.

 

Wallahu a’lam bishshawab!       

                    Terima kasih.  


Share this article