Budaya Dom Drien Malam Pengantin di Aceh

by Admin
img

 


 


 Oleh Nab Bahany As


 


             Dalam serangkaian adat perkawinan di Aceh dulu, ada suatu istilah yang disebut dom drien. Dalam pengertian bahasa Indonesia dom drien bisa diterjemahkan menginap di kebun durian saat musim panen, agar durian yang jatuh tidak dicuri orang. Tapi entah bagaimana ceritanya, kemudian dom drien ini diistilahkan pada orang yang menginap di rumah pengantin baru untuk menemani  linto baro selama bebera malam, mulai malam pertama seusai  prosesi adat antar linto sampai tujuh malam berturut-turut.


Dulu, acara antar linto baro ke rumah dara baro di Aceh biasanya dilakukan pada malam hari dengan berjalan kaki sambil menyelakan lampu patromat (panyoet serungkeng) atau obor (suloh) sebagai penerang jalan. Karena kebanyakan pasangan pengantin dulu letak kampungnya tidak berjauhan, paling selang dua atau tiga kampung berjalan kaki sudah sampai ke rumah dara baro yang dituju oleh rombongan linto baro. Kecuali bila tempat tinggal dara baro dan linto baro agak berjauhan, maka acara antar linto baro  dilakukan pada siang hari.


Bila antar linto dilakukan malam hari, maka setelah semua prosesi adat selesai dilakukan—mulai dari penyambutan rombongan  linto sampai linto baro dipersandingkan di atas pelaminan dengan dara baro sebagai puncak kebahagian  yang sangat ditunggu oleh kedua mempelai, dan disanksikan oleh semua sanak famili dan handai taulan yang hadir dalam pesta perkawinan itu—maka setelah semua itu selesai, rombongan linto baro kembali pulang ke tempatnya masing-masing. Sementara linto baro pada malam pertama itu langsung menginap di rumah dara baro  yang ditemani oleh bebera temannya yang telah disiapkan lebih dulu,  yang dalam bahasa adat disebut sebagai penganjo.


Beberapa teman yang menginap di rumah dara baro untuk menemani linto baro itulah yang disebut dom drien. Biasanya, orang yang menemani linto baro untuk dom drien ini dipilih dari sahabat dekat linto baro yang masih perjaka. Demikian pula di pihak dara baro, pada malam pengantin itu juga ditemani oleh beberapa temannya yang masih gadis-gadis. Sehingga, pada malam pertama linto baro menginap di rumah dara baro terjadi suatu keakraban komunikasi antara linto baro dengan dara baro yang dibantu oleh penganjonya (teman dom drien) masing-masing.


Itulah fungsi adat dom drien pada malam pengantin dalam adat perkawinan orang Aceh dulu, yaitu untuk membantu kedua mempelai yang masih malu-malu dalam menjalin keakraban sebagai suami istri yang sah setelah mereka menikah dan dipersandingkan di atas pelaminan.


Sebab harus diakui, para pengantin terdahulu jauh berbeda dengan pengantin sekarang. Dulu, seorang calon linto baro dan dara baro dalam menuju pernikahan tidak diawali dengan pacaran lebih dulu. Pargaulan mereka sekalipun sudah bertunangan tidak sebabas calon pengantin sekarang. Seorang linto baro dulu kadang baru mengenal dara baronya secara lebih dekat pada saat mereka dipersansingkan di atas pelaminan. Sehingga nilai keharuan dan rasa kebahagian pada saat mereka dipersandingkan di pelaminan benar-benar mereka rasakan sebagai “raja dan ratu sehari” dalam sepanjang sejarah hidupnya.


Bahkan tak jarang terjadi, sangking tak sanggup menahan  rasa bahagia yang luar biasa dengan sedikit malu-malu saat duduk bersanding di pelaminan, sang dara baro sering jatuh pingsan beberapa saat untuk kemudian siuman kembali. Bagitu sakralnya nilai yang terkandung dalam sebuah prosesi adat perkawinan yang dirasakan oleh masayarakat tempo dulu.


Lalu bandingkan dengan apa yang terjadi pada para calon linto baro dan dara baro saat ini. Mungkin sebelum menuju pelaminan, mereka sudah lebih dulu menuju “ranjang pengantin”. Sehingga linto baro dan dara baro sekarang tak perlu lagi  lagi diberlakukan adat Dom Drien. Karena tidak ada lagi bagi mereka yang harus dipandu oleh para pengajonya masing-masing. Sebab, jauh sebelum menuju malam pengantin secara resmi, mereka sudah cukup saling akrap dan “kenal-mengenal” antara satu sama lain.


Apalagi dalam kemajuan teknologi informasi saat ini, hampir tak ada lagi sekat nilai yang membatasi pergaulan secara berduaan yang sebelumnya ditabu  sebelum menikah. Malam dulu, bila sepasang muda-mudi bercinta, surat cintanya dikirim lewat Boh Lupieng yang diletakkn di depan rumah siwanita yang dicintainya, karena mereka tabu untuk bertemu. Sekarang siapa yang bisa melarang bila sepasang muda-mudi bercinta dan berbicara berjam-jam melalui telpon genggannya masing-masing.


Dulu, berboncengan sepeda saja bagi seorang perempuan dianggap tabu oleh masyarakat. Sekarang siapa yang bisa protes, bila sepasang muda-mudi berboncengan Honda, yang jok Honda tempat duduknya sekarang sengaja dibuat rendah ke depan,  banyangkan apa yang terjadi bagi yang duduk di belakang bila Honda itu dibawa oleh seorang anak laki-laki.


Nah, dalam keterbukaan budaya pergaulan muda-mudi kita saat ini, jelas  budaya Dom Drien dalam prosesi adat perkawinan di Aceh telah menjadi sebuah nilai budaya masyarakat yang hilang begitu saja, seiring berbubahnya ala bercinta dari zaman berkirim surat cinta lewat Boh Lupieng secara sembunyi-sembunyi, hingga zaman berpacaran “terbuka-bukaan” sekarang ini. Jadi buat apa lagi budaya Dom Drien?.


Penulis, budayawan, tinggal di Banda Aceh.                                                 


 


 


Share this article