In memoriam Sjamsuddin Daud, SH, M.Hum

by Admin
img

In memoriam Sjamsuddin Daud, SH, M.Hum

Irwadi. R, SH & Mukhlis S.kom

Innalillahi Wainnailaihi Rajiun. Telah berpulang kerahmatullah dengan menyisihkan kerinduan dan kehilangan yang mendalam  pada hari Sabtu, 14 Januari 2017  H. Sjamsuddin  Daud, SH, M.Hum yang merupakan Wakil Ketua II Majelis Adat Aceh. Pribadi  yang dikenal  ramah dan rendah hati, serta memiliki wawasan yang luas dibidang hukum dan pemerintahan, kini beliau pergi untuk selamanya. Beliau lahir di Banda Aceh pada bulan Oktober 1950 dan meninggal dalam usia 67 Tahun dengan meninggalkan 7orang anak dan 7 orang cucu. Beliau telah lama melawan penyakit diabetes melitus yang melemahkan fisik Beliau. Namun begitu, meski dalam kondisi sakit-sakitan Beliau tetap berusaha untuk ke kantor. Belakangan kondisi kesehatan Beliau semakin memburuk dan terakhir meninggal karena komplikasi beberapa penyakit (diabetes, jantung, dan terakhir sesak nafas). Sepanjang karir di Majelis Adat Aceh ada beberapa buku yang sempat Beliau tulis,  beberapa diantaranya :

1. Adat Meugoe (Adat Bersawah)

2. Adat Meulaot (Adat Mencari  Ikan di laut) *ditulis bersama Miftahuddin Cut adek*

4. Adat Meukawen (Adat Perkawinan)

5. Kalender Aceh dalam Lintasan Kalender Dunia.  

Selain dalam bentuk buku ada beberapa article yang dimuat dalam majalah Jeumala, dan masih banyak tulisan dalam bentuk makalah yang ditulis dan dipresentasikan dalam berbagai pertemuan dan seminar yang berkaitan dengan hukum adat dan peradilan adat di Aceh. Buku-buku dan tulisan tersebut banyak di incar oleh para mahasiswa (i)  Strata 1 (S1), Program Magister, Doktor dari Universitas  Sumatera Utara,  Universitas Syiah Kuala,  Universitas Islam Negeri Ar-Raniri, Universitas Gajah Mada, Universitas Sunan Kalijaga, Universitas Kebangsaan Malaysia,  sebagai studi literatur penelitian para mahasiswa (i).

Almarhum Sjamsuddin Daud juga seorang  ahli dalam  ilmu hukum adat, terutama adat laot. Suatu ketika Beliau pernah bercerita mengenai  ujian tesis Beliau dalam menyelesaikan Program Magister di Fakultas hukum Unsyiah mengenai Kenduri Laot. Beliau diuji oleh                  Prof. AP. Parlidungan dari Fakultas Hukum USU. Ketika itu Prof. AP. Parlindungan berkata, “Saya sudah lihat tesis Saudara, hanya ada satu pertanyaan saya, bila Saudara bisa jawab Saudara dinyatakan lulus.  Pertanyaan saya, Apa beda Kenduri Laot dengan Pesta Laot.”  Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh Almarhum dengan jawaban, “ Pesta Laut tidak ada doa sedangkan Kenduri laot ada doa.” Saudara lulus. Begitulah cerita beliau kepada kami. Dengan bangga Beliau mengatakan “gampang sekali saya sewaktu ujian tesis”

Semasa kuliah Beliau bertemu dan dekat dengan Ketua Majelis Adat Aceh H. Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum yang juga mengambil kuliah magister ditempat yang sama. Akhirnya kedua pemuka adat ini banyak membuat kemajuan dan pembaharuan dalam pelaksanaan hukum Adat dan Peradilan Adat  di Aceh. Keduanya merupakan tipe orang yang suka sharing  ilmu dan pengalaman bila ada pihak tertentu yang ingin mendalami Hukum Adat dan Adat-Istidat.

Almarhum merupakan seorang  Birokrat sejati sepanjang karir  PNS di Pemerintahan  Beliau selalu dalam posisi  mendapat  jabatan  dikarenakan keahlian dan dan kemampuan Beliau dalam bidang hukum dan pemerintahan. Hanya satu bulan saja yang off dari jabatan itu pun karena ada peralihan pimpinan daerah. Dalam riwayat jabatan Beliau pernah menjabat Kepala Bagian Hukum Kotamadya Banda Aceh, Kepala Biro Hukum Setda Provinsi Aceh, Wakadis Depnaker dan Transmigrasi dan  Kepala Dinas Tenaga kerja Provinsi Aceh. setelah memasuki purna tugas Beliau bergabung dengan Majelis Adat Aceh dengan kedudukan Wakil Ketua II. Hal tersebut diceritakan kepada penulis sewaktu melakukan perjalan dinas bersama ke kabupaten Aceh barat pada pertengahan tahun 2016.

Semasa kepemimpinan Walikota Banda Aceh  Bapak Drs. Baharuddin Yahya,  Almarhum merupakan orang kepercayaan dalam menyusun dan mempersiapkan laporan pertanggungjawaban  Walikota dalam  rapat paripurna DPRD Tk. II Kotamadya Banda Aceh.  Laporan pertanggung jawaban tersebut selalu diterima oleh DPRD Tk. II Kotamadya Banda Aceh ketika itu.

Sosok Almarhum  merupakan pribadi yang ramah  dan mudah akrab dengan siapa saja. Penulis sering menyapa Beliau dengan sebutan Opa dikarenakan kebersahajaan beliau dalam membimbing dan mengayomi laksana seorang ayah berbicara dengan anaknya, bahkan terkadang sudah seperti teman dekat. Tiada  ada jarak antara staf dengan pimpinan  bila hendak bertemu dan berkonsultasi dengan beliau di ruang kerjanya.

Semasa beliau bertugas di Majelis Adat Aceh, beliau berpesan siapa saja tamu yang ingin berkonsultasi maupun beraudiensi  dengan Beliau haruslah dalam konteks Adat, Hukum Adat,  dan Tata Pemerintahan, sebab itulah keahlian yang beliau dimiliki. Penulis  ingin bercerita sedikit  tentang hal yang menarik  dari sisi  kepribadian beliau pada saat diadakan rapat.  Beliau selalu memberi pendapat menjelang rapat berakhir. Beliau memberi pendapat yang berbeda, dimana hal tersebut tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Apa yang beliau sampaikan itu pada dasarnya benar adanya, dan kita akhirnya mengiyakan apa yang beliau sampaikan.

Ada kenangan yang tak terlupakan bersama Pak Sjam dan mengharukan bila dikenang, saat penulis, Khairuddin, dan Pak Sjam melakukan perjalanan dinas ke Yogyakarta beberapa waktu lalu. Dimana kami harus naik becak yang dayung khas Yokyakarta yang dikayuh dari belakang oleh Mas Iwan (Pemilik becak). Kami harus naik satu becak bersama, saling pangku dan berhimpitan. Padahal sebelumnya Khairuddin sudah menawarkan untuk menyewa satu becak lagi. Namun tawaran Khairuddin tersebut di tepis oleh Pak Sjam dengan jawaban “keu peu, kon hayeu lagee nyoe. Nyan meunyoe disebeng kamat beukong bek meuseumpom lamparek becak hana ansuransi ken lage pesawat.

 

Selamat jalan, terima kasih Pak Sjam doa kami untukmu, nasehat dan bimbinganmu akan membekali pengabdian kami bagi negeri ini kami

 “ YA Allah, Sesunggunya diriMu maha pemaaf dan Suka memberi maaf, maka maafkanlah (kesalahan –Kesalahan) Kami dan Maafkanlah dosa para pendahulu kami berikanlah Surga sebagaimana yang pernah diriMu Janjikan”. Amin.

Share this article