KONSEPSI BEUDOH GAMPONG

by Admin
img

KONSEPSI BEUDOH GAMPONG

(Saran: kontribusi Awal)

Oleh : Badruzzaman Ismail

 

         Kontribusi Awal tentang konsep-konsep Beudoh Gampong, dari aspek filosofis/ idialis kultural budaya adat Aceh, sebagai simbol kejayaan Aceh masa lalu dan imajinasi hamparan pikiran (dengan poblematika era kekinian),  menuju masa depan (dalam ruang impossible) sain/ teknologi, mendorong pikiran kita, bahwa semua cita-cita itu, Insya Allah akan menjadi possible(faktual), beralaskan :”man jadda, wajad”. Ikhtiyaaru wajibon.  Indikator kejayaan masa dulu (era zamannya), membuktikan syi’arnya “Aceh, five the best in the world”. Gampong dengan fungsi meunasahnya merupakan wahana ikatan ideal spirit motivasi berpikir untuk mensiasati titik-titik stat dan step membangun dengan acuan berpikir (menurut penulis), merujuk kepada Qur’an/ Sunnah yang dijabarkan dalam narit maja : “Adat ngon hukom, lagei zat ngon sifeut, hanjeut crei-brei”. “pok-pok yee, boh ram itam tangkee. Nyang putik-putik tinggai di combak, nyang masak-masak tapajoh lee”. Memetik nikmat sambil, terus beramal, mengolah Alam (rahmatan lil a’lamin).Atas dasar nilai-nilai pikiran itu, sebagai anak gampong ingin menyarankan beberapa item’s, tentang konsep pembangunan gampong, sbb:

1.       Aspek Yuridis: UU Aceh yang memiliki kewenangan lex specialis/ kekhususan, telah melegalkan gampong komunitas adat, menjadi sebagai unit “Pemerintahan Gampong”                            ( Qanun No,5 Tahun 2003). Dilihat dari aspek tatanegara/ pemerintahan di Aceh, berarti ada lembaga: Pemerintah Aceh, lembaga Pemerintahan Kab/ Kota dan lembaga Pemerintahan Gampong terbawah(bahkan pemerintahan mukim ?).

2.       Aspek pisik struktural: Pemerintah Aceh. Pemerintah Kab/ Kota memiliki sistem perencanaan pembangunan, masing-masing (APBA dan APBK/ Kot) dengan akumulasi anggaran dalam DIPA masing-masing pemerintah pula. Tentu kalau disepakati di Qanunkan (diatur), dalam rangka percepatan pembangunan dan pencerdasan anak bangsa, apa salahnya disarankan untuk Rencana pembangunan Gampong, juga menjadi satu sistem Rencana Pembangunan Gampong dengan “DIPA Gampong” sendiri, untuk setiap tahun anggaran berjalan. Meskipun gampong banyak (6.700 lebih), dalam sistim IT sekarang, pelaksanaan Administrasinya  menjadi possible (mudah). Semua dana bantuan untuk gampong dari sumber instansi manapun termasuk dana bantuan Pemerinta Aceh, Pemerintah Kab/ kota/ Dana bantuan UU.No.6 Tahun 2014 dan bantuan pihak-pihak lainnya harus disatukan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Gampung APBG) setiap tahun berjalan. Semua ketentuan peraturan tentang penyelenggaraannya, minimal dapat disamakan dengan APBD Kab/ Kota. SDM gampong sudah berkembang, ada sarjana umum, agama dan tokoh-tokoh pemerintahan tinggal di gampong dan umumnya menggunakan perangkat IT. Kewajiban Pemerintah mengatur lembaga-lembaga itu dan memberi bimbingan skill/ tehnis pelaksanaan, pengawasan dan sebagainya (Semua itu dapat diatur).

3.       Aspek Kepemimpinan: Gampong dipimpin oleh Dewi Tunggal :Keuchik (Ku) dan Teungku Imam (Ma), dibantu oleh Tuha Peut dan Sekretaris Gampong, sebagai komponen pengendali, pengolah dan pengawas jalannya rencana pembangunan gampong. Semua perencanaan pembangunan disahkan dalam Musyawarah Mupakat masyarakat gampong

4.       Aspek Sejarah: Masa sekarang, tanpa masa dulu kehilangan arah. Maka membaca dan memahami nilai-nilai sejarah masa lampau menjadi amat penting, Karena itu filosofi memahami makna gampong menjadi urgensial/penting, sebagai benang merah tali pengikat dengan gampong masa sekarang, Dengan setudi sejarah, berbagai bidang  wahana/ wadah Forum Beudoh Gampong, dapat menemukan nilai-nilai spiritnya, terutama penggalian, perawatan situs sejarah, selain untuk menemukan peninggalan para indatu, guna memetik nilai-nilai edukasi, kegeniusan, inspirasi heroisme dan tentu kaitannya ini dengan memahami pariwisata wilayah destination turisme bagi generasi anak cucu berlanjut. Akan memahami bahwa peninggalan sejarah,harus dirawat dan tidak boleh menjadi tempat sampah (terhina)  

5.       Aspek Nilai Budaya Adat Aceh. Perlu menjadi catatan, mahwa sifat budaya masyarakat gampong, memiliki nilai-nilai otonomii yang luas, demokrasi musyawarah mupakat, dinamis, sehingga segala program / projek yang dilaksanakan akan merasa memiliki (sain of belonging). Merasa; akan menjaga amanah bersama, manfaat bersama, tanggung jawab bersama serta membangkitkan kebanggaan keberhasilan, dan kehebatan gampongnya bersama. Masyarakat gampong tidak boleh diperlakukan/ dipandang sebagai bawahan aparatur/ instansi yang menyediakan/ membantu anggaran projek. Perlakuan semacam itu menjadi salah satu indikasi, masa bodoh terhadap kewajibannya, sehingga kadang-kadang aparat gampong tergiring dalam proses hukum (tanpa disadari).

6.       Aspek Musyawarah Mupakat. Dengan asas musyawarah mupakat dalam forum “Adat Musapat di Meunasah” maka semua masalah rencana pembangunan gampong dapat dibahas bersama-sama perangkat gampong, tokoh ulama, tokoh adat, cerdik pandai, pemuda, perempuan bersama masyarakat, dst. Dengan setiap tahun gampong merencanakan pembangunan tahunan demikian, diharapkan dalam waktu tahun-tahun berjalan dapat terlihat dari hasil bangunan mereka, Tentu dengan sistem itu akan mudah terlihat restorasi perubahan kemajuan pembangunan gampong untuk masa-masa seterusnya.(peran saien dan teknologi, dan pakar sangat dibutuhkan)

7.       Aspek Program Pembangunaan; Setidaknya(minimal), bila seperti itu konsep nilai dasar pembangunan Beudoh Gampon, maka program-program yang harus disusun( dirancang) serta diatur sekala prioritas tahapan, antara lain adalah:

 Tata ruang gampong, penataan kebersihan, pedidikan, pendidikan sejarah, pendidikan syari’at/ agama, pendidikan PAUD dan shalat jamaah di meunasah,  karakter/ akhlak,tatanan sopan santun, ekonomi, pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, industiri , kuliner, penataan pakaian, seni, ketrampilan, ketangkasan silat/ geudeu-geudeu, keterampilan anyaman, kiramik , penggalian/ pengolahan lingkungan dan lain-lain seterusnya sesuai sikondom geografis setempat

8.       Aspek Saientist/ teknolog/ ilmuan/ pakar.Sejak awal konsep perencanaan/ pelaksanaan membangun Beudoh Gampong, wajib ikut serta Saientist/ teknolog/ ilmuan/ pakar. Dipersilahkan para ilmuan/ pakar, turut serta meneliti dalam segala aspek pembangunan gampong, untuk membangun kapasitas SDM (para pemuda/ pemudi/ sarjana/ perangkat Gpg dan tenaga potensial lainnya). Mudah-mudahan berbagai para ahli ilmuan/ teknolog, dapat turut beramal, bersama para ulama, dermawan/ kayawan/ hartawan, birokrat untuk turun bersama-sama membangun negeri tumpah darah (gampog), menuju hari depan yang lebih baik. Silahkan mereqruit calon-calon kader ilmuan dari gampong-gampong yang mampu, untuk mmeningkatkan pendidikan dalam berbagai bidang ilmu pada uniersitas-universitas ternama baik di dalam maupun di luar negeri.

9.      Aspek-aspek Pembinaan Masyarakat Gampong: Dari studi pengamatan ada beberapa nilai fondamental yang melemah/ erosi tentang kontek bangunan kerjasama/ kebersamaan dalam ruang segitiga Triangle in One Idea (orang Aceh, gampong dan meunasah dalam konsep ideal, untuk perencanaan dan out put hasilnya yang akan dicapai.  Karena itu masyarakat gampong harus dibenahi/ diberikan pencerahan kembali (recavery) dengan nilai-nilai filosofis, sikologis, sosiologis, historis dalam konteks perkembangan masa, saien dan teknologi (IT). Adapun bahan-bahan pembenahan/ pencerahan nilai-nilai adat budaya Aceh, antara lain

a.      Fungsi Meunasah, yaitu: sentral kegiatan, tempat ibadah/ shalat berjamaah, pengajian / pendidikan, keterampilan/ kreasi dakwah dan diskusi, pusat kegiatan pemuda, tempat sidang penyelesaian sengketa adat gampong, tempat musyawarah mupakat asah trampil dan lain-lainnya. Karena itu Fungsi Meunasah dapat dipandang sebagai “central/ Ikon” sumber pembinaan“Karakter/ Akhlaq”, dalam budaya adat Aceh, yang melahirkan spirit inovasi/ motivasi harkat, martabat membangun kesejahteraan. 

        Peran (fungsi) Meunasah dilaksanakan oleh lembaga Struktural yang dipimpin oleh Keuchik dengan wewenang/ kekuasaan “Mono Trias Function”/ Tiga fungsi kekuasaan dalam ketunggalan), dibantu oleh Tuha Peut (mitra), dalam demokrasi muasyawarah mupakat.

b.    Fungsi  Struktural Tatanegara/ Tata pemerintahan gampong (aspek adat), seperti:

Keuchik,Teungku/ Imum Meunasah, Tuha Peut, Sekretaris Gampong, Tokoh Masy,Cerdik-pandai, Adat, Ulama (fungsional)

Lembaga-lembaga ekonomi adat gampong:  seperti f.1. Keujrun Blang, f.2.Panglima Laot, Pawang Glee/ Pawang Huteun,Peutua Sineubok, Haria Peukan, Syahbanda(kuala, sungai)

 

c.     Nilai Dasar Pembinaan/ Pengembangan Lingkungan Budaya Adat Aceh

 

a.              Dimensi manfaat ritualitas (agama Islam)

b.              Dimensi manfaat ekonomi

c.              Dimensi manfaat lingkungan

d.              Dimensi manfaat hukum (norma/ kaedah) adat

e.              Dimensi manfaat konpetitif/ keunggulan/ produk.

f.               Dimensi manfaat identiry (kebanggaan harkat martabat, peradaban)

 

d.       Nilai-NILAI Dasar Budaya Adat Aceh, seperti; 

=  Otonomi gpg, sangat luas, (historis, kultural, yuridis: faktor genealogis & teritorial, UUD 45, Pancasila,NKRI, Bhinneka Tunggal Ika/ konteks nasional)

=. Masyarakat Aceh, bersifat komunal, meuseuraya/ rambateerata(karakter)

=  Demokrasi musyawarah mupakat, (adat musapat)

=  Meunasah central kegiatan dan pembinaan syari’at

         =  Keuchik/ Teungku berfungsi Dwi Tunggal (KU-MA (membina masyarakat dan agama).

         =  Tuha peut gpg/mitra Keuchik, berfungsi membantu rencana dan masukan saran 

         =  Fungsi Keuchik, Mono Trias Function (yudikator, legislator, ekssekutor).tidak otoriter, karena mitra tuha peut

         = Prinsip ekonomi gpg sosial/agamis :hak ubee diplung, bulung ubee teuka

         = Tema:” peukong pageu gampong”.  (perangkat gpg bertanggung jawab ketahanan gpg masyarakat gpg)

e.       Program-program kegiatan./ action plane (Pembangnan 1 tahun- 5 tahun)

 

====================== All time for you ================================

 

   

Share this article