mencari dan Menemukan Nilai-Nilai Pengaturan Kehamilan dalam Khazanah Budaya Aceh

by Admin
img

MENCARI DAN MENEMUKAN NILAI-NILAI
PENGATURAN KEHAMILAN  DALAM KHAZANAH BUDAYA ADAT ACEH
Oleh : H.Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum

Disampaikan pada:

Seminar Sehari Program KKBPK dari Sudut Pandang Ulama dan Tokoh Adat, Desember 2017

Di Banda Aceh

 

 I.        PEMBINAAN PENGATURAN KEHAMILAN
(Program Era Keluarga Berencana dan Era Keluarga Tradisional)

 

1. Era Keluarga Berencana

Era ini saya maksudkan adalah masa dimana Pemerintah mulai melakukan perencanaan/ pembinaan tentang perlunya keluarga berencana dalam mengatur kehamilan/ kelahiran anak (3 orang) untuk satu keluarga. Program ini digerakkan oleh Pemerintah secara nasional melalui lembaga-lembaga (yang kemudian disebut dengan )BkkbN, kalau tidak salah sejak tahun sembilan belas delapan puluhan.  Begitu pentingnya program ini, sehingga dipimpin oleh seorang Menteri Khusus dengan jaringan nasional melalui lembaga-lembaga BkkbN di daerah-daerah.

Program ini dilaksanakan waktu itu dengan asumsi pertimbangan bahwa faktor ekonomi dan pendidikan sangat dominan dan menentukan untuk kesejahteraan kehidupan satu keluarga. Perkembangan dunia global, saien, teknologi, informasi, dunia keterbukaan dan glamoris keduniaan sangat deras pengaruhnya. Kondisi kebutuhan dunia global sangat mengganggu equilibrium kehidupan masyarakat(dominan tradisionalnya), antara penghasilan dengan kebutuhan, dimana lajur perkembangan kelahiran manusia seperti deret hitung dan pendapatan/ekonomi seperti deret ukur. And soo on, menyangkut era ini BkkbN lah yg sangat berkompeten dan menjadi wewenang urusannya

Kesan saya waku itu sosialisasi program KB yang digerakkan oleh BkkbN, secara nasional khususnya di Aceh waktu itu sangat berhasil. Indikatornya Aceh menjadi salah satu sampling nasional keberhasilan KB, sehingga dikunjungi oleh puluhan negara asing (negara-negara Islam), untuk studi keberhasilan KB bagi masyarakat Islam di Aceh Indonesia (Argumennya : pendekatan Ulama dan Tokoh-tokoh Adat)

 

II.  ERA Tradisional dalam hubungan Keluarga Berencana

Era Tradisional Pembinaan Keluarga

Era Tradisional ini dibatasi dalam ruang sebatas pengalaman kehidupan saya([ahir 17 Septmber 1942), sampai sekarang ini yang kebetulan memangku Ketua Majelis Adat Aceh. Untuk itu beberapa hal dicoba angkat, semoga nantinya akan memancing peserta memberikan masukan (masing-masing daerah(Aceh multikultural/ adat) yang lebih akurat dan mendasar. Pertimbangan/ pengalaman saya antara lain, sbb:

  1. Tidak pernah menemukan literatur, baik umum maupun khusus tentang Pengaturan kehamilan menurut tradisi Aceh
  2. Tidak pernah menerima bimbingan atau petunjuk-petunjuk khusus tentang Pengaturan Kehamilan dari orang-orang tua/ tokoh-tokoh adat/ masyarakat/ ulama
  3. Dalam hal perkawinan, bimbingan yang disosialisasikan : Perkawainan adalah ibadah, sunnah rasul, harus dipergauli dengan baik/ mu’asyarah bil makruf dan doa-doa untuk membangun kebahagiaan dan jauh dari setan
  4. Menjaga dan membangun nama baik kehidupan keluarga, keturunan  dan nama baik/ martabat kaumnya
  5. Masalah keluarga/ kehidupan rumah tangga, dianggap masalah yang sangat sakral, suci/mulia, kehormatan, kebanggaan dan sangat pribadi/ privat. Karena itu aib/ jelek dan tabu, apabila masalah rumah tangga dibicarakan secara terbuka (menjaga rahasia rumah tangga)
  6. Kehidupan sangat alami (merasa bagian dan menyatu dengan lingkungan Kosmos). Ada adagium : “Lee aneuk leu rizki, Insya Allah, Tuhan bri bila na usaha” . “Meugoe panghulee hareukat, Seumbahyang panghulee ibadat”
  7. Bimbingan kehidupan rumah tangga bersumber dari ajaran agama, dalam konsep : mua’syarah bilma’ruf”

  III.   Prinsip Dasar Nilai-nilai Tradisional dalam Pembinaan Kehidupan Keluarga
(Berdampak  bagi Pengaturan Kehamilan)

  1. Urusan perkawinan(“meukawein”) melekat dalam tanggung jawab keluarga. Mulai sejak mencari jodoh, pertunangan, nikah, upacara perkawinan/ pelaminan, kehamilan, syukoe-ook, injak tanah/ peutroen aneuk dan sunat rasul, dan seterusnya)------hampir semua pelaksanaannya  penuh dengan acara adat (seremonial)------Analisis saya : Penyelenggraan sistem demikian ada terkandung di dalamnya nilai-nilai pengaturan kehamilan
  2. Praktek-praktek tradisional lainnya yang bernilai pengaturan kehamilan, seperti dalam acara prosesi perkawinan (pelaminan), dalam adat terjadi hal-hal berikut:

a. Pelaksanaan perkawinan, ada waktu-waktu interval yang diatur/ diadatkan, seperti : ada waktu cah rot/ reit, pertunangan, pernikahan dan tiba waktu peresmian perkawinan, bahkan terkait pemilihan “waktu”bulan-bulan terbaik

b.  Prosesi perkawinan ; malam pelaminan(penganten lintoe baroe), “woe sikureung”(setelah berselang satu malam) dari setelah malam peresmian. Lalu dilanjutkan dengan “woe tujoeh”(3 atau 4 malam). Kemudian “lintoe istirahat pulang keruman dara baroe. Baru boleh pulang kembali ke rumah dara baroe, waktu mulai nampak bulan baru. Kondisi  selang-selang pulang semacam ini dapat berjalan sampai isterinya mulai kehamilan. Karena itu, banyak dulu-dulunya seorang pemuda yang sudah kawin, sering tidur di Meunasah .Bahkan banyak juga para pemuda setelah kawin, hanya tinggal berapa malam, lalu mereka terus pergi merantau mencarai rezki  jauh ke daerah/ kota lain

c.  Ada juga yang mengatur dengan minum obat-obat sehat tradional, dan kalau sudah melahirkan kemudian di rawat oleh dukun kampung dengan cara “Madeung/ bersalai, pakai  pemanasan batu bata panas, makan makanan yang kurang leumak/ hormon dan minuman khusus dari sari kunyit, madu, jamu, majun, telur dan refleksi/ mesej/ urut. Saat baru peresmian, malu kalau siang-siang sering ada di rumah,Biasanya tetap sering pulang ke rumah ibunya di siang hari

d. Era tradisional tidak ada program dari pemerintah atau dari lembaga-lembaga masyarakat. Karena itu soal Pengaturan Kehamilan tergantung kepada pasangan(suami-isteri/ keluarga) yang membangun rumah tangga masing-masing

3.  Kondisi sekarang sesuai dengan keterbukaan, teknologi, saien, IT, Informasi, pendidikan dan ekonomi, maka hampir tak ada lagi istilah masyarakat modern dan tradisional, dalam hal KB. Semuanya berada dalam era sangat terbuka dan rasional. Karena itu masyarakat memahami :”Ta meu anauk jareung-jareung, mak na ruweung lee bahagia. Ta meu aneuk rapat-rapat, Lee meularat dari bahagia”

 

Share this article