Pakaian Adat Aceh Untuk Upacara Daerah

by Admin
img

PAKAIAN ADAT ACEH UNTUK UPACARA DAERAH[1]

Drs. Nurdin AR, M. Hum[2]

 

     Pakaian merupakan salah satu hajat hidup manusia, dengan fungsi utama sebagai penutup aurat atau pelindung tubuh dari pengaruh cuaca dan gangguan binatang atau benda tajam. Kartiwa (1982) menyebutkan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal dan membuat pakaian sejak zaman neolitikum, yang ditandai dengan ditemukannya alat pemukul kulit kayu yang terbuat dari batu alam yang menunjukkan bahwa manusia Indonesia telah mengenal cara pembuatan pakaian sejak masa prasejarah[3]

     Pada mulanya bahan dasar yang dipergunakan untuk membuat pakaian sangat ditentukan oleh lingkungan alam di mana manusia hidup, misalnya dari kulit binatang dan kulit kayu atau bombas (kulet kayee)[4]. Sejalan dengan perkembangan peradaban, pakaian  sebagai salah satu unsur hasil budaya manusia secara umum telah mengalami perjalanan penciptaan yang cukup panjang. Demikian juga dengan berkembangnya teknologi, maka penggunaan bahan baku dan cara pembuatan pakaian pun mengalami perkembangan yang semakin sempurna. Seiring dengan semangat zaman dan selera pemakaianya, maka bahan baku, model pakaian, dan peruntukannya pun berkembang kepada berbagai bentuk, seperti pakaian lelaki dan pakaian perempuan, pakaian sehari-hari, pakaian kerja, pakaian untuk beribadah, pakaian kerja kantoran: PSH, PSR, PDH, POR, dan sebagainya, pakaian penari, pakaian adat, dan lain-lain.

     Khusus untuk pakaian masyarakat Aceh pada awalnya selalu memakai bahan baku kain-kain yang ditenun sendiri baik dari bahan sutera maupun dari bahan kapas dengan ragam hias berbagai motif[5], seperti untuk membuat kain pinggang (ija pinggang), destar (tangkulok), kain pembungkus sirih (bungkoih ranub), celana kaum perempuan (siluweue inong), kain selendang (ija sawak), yang sesuai dengan cara memakainya juga disebut ija tob ulee (penutup kepala), ija slendang (selendang), ija seulimbot (selimut), kain lambung (ija lambong), yaitu kain yang dilipat tiga secara memanjang sehingga dapat menutupi sebagian badan.[6]

     Adapun untuk pakaian adat, maka bahan baku yang dipakai juga sama dengan apa yang telah tersebut di atas, dengan komponen baju lengan panjang (bajee panyang sapai) berkerah Cina[7] warna hitam polos dengan perhiasan ayeuem bajee atau taloe jeuem (tali jam) emas[8] yang disematkan antara kancing kedua dari atas dan katong baju dan dilengkapi dengan bungkoih ranub[9] atau ija seumadah[10] yang disematkan di bahu kanan, celana panjang (siluweue panyang) polos, yang dilapisi dengan kain pinggang (ija pinggang) songket yang digulung hingga ujungnya (ulee ija) bagian bawah kira-kira 10 cm. di atas lutut, memakai rincong meupucok di pinggang kanan[11], kupiah meukeutob[12] yang dililitkan destar dari kain songket[13] yang digulung (tangkulok meuglong) pada salah satu sudutnya hingga meninggalkan satu sudut berlawanan yang membentuk pucok reubong pada posisi belakang kupiah meukeutob dengan perhiasan  tampok[14] yang dilengkapi dengan perhiasan prik-prik[15],  pakai sepatu untuk pakaian adat lelaki.

     Akan halnya pakaian adat perempuan, juga memakai bahan-bahan tersebut di atas dengan komponen baju lengan panjang (bajee panyang sapai) warna hitam polos atau warna lain  sesuai selera, siluweue inong atau siluweue tunjong[16] yang dilapisi dengan kain pinggang (ija pinggang) songket yang digulung hingga ujungnya (ulee ija) bagian bawah kira-kira 10 cm.di bawah lutut, dilengkapi dengan perhiasan-perhiasan  patham dhoe, bungong sunteng, ayeuem geumbak, ulee ceumara, subang, dan untaian bunga pada bagian kepala, klah takue, euntuek boh ru, keutap lhee lapeh, dan simplah di bagian leher dan dada, taloe keu-ieng patah sikureueng dan capeng pada pinggang, gleueng di lengan atas kiri dan kanan, dan sawek meurante pada kedua pergelangan tangan, memegang ayeuem bungkoih di tangan, gelang kaki (gleueng gaki), pakai sepatu atau sandal.

     Mengingat pakaian adat pada umumnya hanya dipakai pada upacara-upacara perkawinan dan upacara-upacara lainnya secara terbatas dan kurang terfomat, tingginya kecendrungan semakin terkikisnya dukungan dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap khazanah budaya Aceh, terutama pakaian adat, dan demi menggalakkan industri kecil dan ekonomi masyarakat, maka muncullah gagasan di kalangan pemuka masyarakat, tokoh-tokoh adat, para pemangku adat, para akademisi, dan pimpinan daerah untuk merevitalisasikan dan mereaktualisasikan pemakaian pakaian adat Aceh secara lebih luas dan terformat, terutama pada pimpinan, pejabat tinggi, pejabat eselon II, eselon III, eselon IV, dan para pegawai pada tingkat Pemerintah Aceh.

     Guna mengimplementasikan gagasan tersebut, maka dirancanglah suatu format pakaian adat Aceh untuk upacara adat dengan menagacu pada kazanah lama pakaian adat Aceh tersebut di atas, dengan penyesuaian-penyesuaian warna bahan dan aksesoris menurut struktur calon pamakainya.

     Adapun format pakaian adat Aceh untuk upacara adat yang dimaksud adalah sebagai berikut.

                

a.    Pakaian Upacara Acat Aceh untuk Gubernur, Wakil Gubernur, dan Wali Nanggroe

 

1. Pakaian laki-laki: memakai baju hitam polos, berkerah Cina, berkancing emas, memakai celana panjang hitam polos, memakai Siwaih, memakai Kupiah Meukeutob dan Tangkulok warna kuning emas[17], memakai ija pinggang songket  warna kuning emas yang digulung hingga ujung (ulee ija) bagian bawah kira-kira 10 cm di atas lutut,  memakai bungkoih ranub atau ija seumadah warna kuning emas, memakai ayeuem bajee atau taloe jeuem, dan memakai sepatu warna hitam.

2. Pakaian perempuan (Gubernur[18], Isteri Gubernur, Wagub[19], Isteri Wakil Gubernur, dan Isteri Wali Nanggroe) memakai blus hitam belah depan berkerah Cina bersulam di dada dan di ujung tangan, memakai celana tunjung warna hitam bersulam kasab, memakai ija pinggang songket (digulung hingga ujung (ulee ija) bagian bawah kira-kira di bawah 10 cm di bawah lutut) dan jilbab warna kuning emas, memakai tali pinggang (taloe keu-ieng patah sikureueng) dan capeng (pending), memakai gelang tangan dan talo takue, dan memakai sepatu atau sandal warna hitam.

 

b.  Pakaian Upacara Adat Aceh untuk Forkopimda (Kajati, Rektor, Kapolda, Pangdam, Sekda, Ketua Pengadilan Tinggi, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota)

 

   1. Pakaian laki-laki, memakaia baju hitam polos berkerah Cina berkancing warna emas, memakai celana hitam polos, memakai rencong, memakai kupiah meukutop dengan tangkulok dan ija pinggang songket warna merah[20] yang digulung hingga ujung kain (ulee ija) bagian bawah kira-kira 10 cm di atas lutut, memakai bungkoih ranub atau ija seumadah warna merah, memakai ayeuem bajee atau taloe jeuem, dan memakai  sepatu warna hitam.

 

  2.  Pakaian perempuan, memakai blus warna hitam atau lainnya belah depan berkerah Cina bersulam kasab pada bagian dada dan di ujung tangan, memakai celana tunjung warna hitam bersulam kasab, memakai ija pinggang gongket yang digulung hingga ujung kain (ulee ija) bagian bawah kira-kira 10 cm di bawah lutut dan jilbab warna merah, memakai taloe keu-ieng patah sikureueng dan capeng (ali pinggang dan pending), dan memakai sepatu atau sandal hitam.

 

c.  Pakaian Upacara Adat Aceh untuk Pejabat Tinggi (Eselon II / Kadis, Wakil Ketuadan Anggota DPRA, Ketua MPA, Ketua MAA, Ketua MPU)

 

 1. Pakaian Laki-Laki, memakai baju hitam polos berkerah Cina berkancing warna emas, memakai celana hitam polos, memakai rencong, memakai  tangkulok  yang digulung hingga ujung kain (ulee ija) kira-kira 10 cm di atas lutut dan ija pinggang songket warna hijau, memakai bungkoih ranub atau ija seumadah warna hijau, memakai ayeuem bajee atau taloe jeuem, dan memakai sepatu hitam.

 

2. Pakaian perempuan, memakai blus warna selain hitam belah depan berkerah Cina bersulam kasab pada bagian dada dan di ujung tangan, memakai celana tunjong warna hitam bersulam kasab, memakai ija pinggang songket yang digulung hingga ujung kain (ulee ija) kira-kira 10 cm di bawah lutut dan jilbab warna hijau, memakai taloe keu-ieng patah sikureueng dan capeng (tali pinggang dan pending),memakai sepatu atau sandal hitam.

 

   d. Pakaian Upacara Adat Aceh untuk Pejabat Eselon III, eselon IV, dan staf

 

       1. Pakaian laki-laki, memakai baju hitam polos berkerah Cina berkancing warna emas, memakai celana hitam polos, memakai rencong, memakai  tangkulok dan ija pinggang songket selain warna merah, hijau dan kuning yang digulung hingga ujung kain (ulee ija) kira-kira 10 cm di atas lutut, memakai ayeuem bajee atau taloe jeuem, dan memakai sepatu warna hitam.

 

       2. Pakaian perempuan, memakai blus selain warna hitam belah depan berkerah Cina bersulam kasab pada bagian dada dan di ujung tangan, memakai celana tunjung warna hitam bersulam kasab, memakai ija pinggang songket yang digulung hingga ujung kain (ulee ija) kira-kira 10 cm di bawah lutut dan jilbab selain warna merah, hijau dan kuning, memakai taloe keu-ieng patah sikureueng dan capeng (tali pinggang dan pending), memakai sepatu atau sandal.

 

    Selanjutnya dapat dilihat pada peragaan masing-masing pakaian tersebut, dan terima kasih.                            



[1] Makalah disampaikan pada Seminar Pakaian Adat Aceh, yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Kamis, 10 Agustus 1017 di Hermes Palace Hotel Banda Aceh.

[2]  Dosen Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Ketua Bidang Kajian Pendidikan dan Pengembangan MAA.

[3] Suwati Kartiwa, Songket Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Museum Nasional 1982), hal. 24

[4] Dr. C. Snouck Hurgronje, Aceh, Rakyat, dan Adat Istiadatnya, terjemahan dari De Atjehers oleh Sutan Maimoen, (Jakarta: INIS 1996), hal. 22

[5] J. Kreemer, Atjeh, (Leiden: E. J. Brill, 1921) hal. 514-516 menyebutkan: bungong glima, seumanga, kupula, seuleupok, kundo, mancang, puta taloe dua, puta taloe lhee, awan-awan, awa sitangke, aneuk abiek, kalimah, sagoe, ayu-ayu, reunek leuek, tabu, sisek meuria, dada limpeuen, juh’ang, pucok reubong, dan bungong gaseng, yang sebenarnya lebih banyak lagi yang selain diterapkan pada tenun juga diterapkan pada ragam hias batu nisan, ragam hias bangunan, illuminasi manuskrip, peralatan rumah tangga, dan lain-lain. 

[6] ibid. hal. 517

Share this article