Panduan Ringkas Iring-iringan Barisan Upacara Adat Intat Linto

by Admin
img

 PANDUAN RINGKAS

IRING-IRINGAN BARISAN UPACARA ADAT INTAT LINTO

Asnawi Zainun

 

            Mengacu pada ketentuan Pasal 1 angka 10 Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Adat dan adat Istiadat, adat didefinisikan sebagai aturan perbuatan dan kebiasaan yang telah berlaku dalam masyarakat yang dijadikan pedoman dalam pergaulan hidup di Aceh. Adat sebagai pedoman hidup aturannya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat di Aceh, termasuk di dalamnya Adat Perkawinan. Adat Perkawinan itu sendiri merupakan aturan-aturan yang meliputi nilai dan proses pelaksanaan perkawinan yang dilakukan tahap demi tahap.  Upacara intat linto merupakan salah satu tahapan dari rangkaian adat meukawen dalam masyarakat Aceh yang masih terus dipertahankan oleh masyarakat dengan berbagai variasinya.

            Salah satu aspek yang penting diperhatikan dalam upacara adat intat linto adalah menyangkut dengan iring iringan rombongan intat linto. Jika kita mengamati pelaksanaan upacara intat linto di masyarakat saat ini, sering kali aturan iring-iringan rombongan intat linto ini tidak diatur dengan baik sehingga tertib dan teratur sesuai dengan kepentingan tahap-tahapan pelaksanaan acara intat linto dan upacara penyambutan di rumah dara baroe.

            Untuk membantu masyarakat Aceh dalam menata iring-iringan rombongan intat linto , maka berikut ini kami sajikan pedoman penyusunan barisan iring-iringan intat linto sebagaimana terlihat dalam tabel berikut:


BARISAN

UNSUR BARISAN

PERAN DALAM BARISAN

PERTAMA

Penabuh Rapa-ie dan Peniup Seurunee Kalee

Jika ada, barisan paling depan adalah barisan penabuh rapa-ie dan seurune kalee, yang melantunkan zikir, shalawat kepada baginda Rasulullah (Salawale) dan syair-syair khusus acara malam intat linto dengan suara yang nyaring;

KEDUA

Tokoh Adat Ureung Inong

beberapa orang tokoh adat perempuan yang membawa bate ranup (cerana), dan setiba di depan pintu masuk rumah dara baro akan melakukan prosesi penyerahan bate ranub (cerana).

 

KETIGA

Tokoh Adat Gampong (Ureung Tuha Gampong)

barisan ureung tuha gampong, yang terdiri dari Keuchik, imeum meunasah, tuha peut, tokoh-tokoh adat gampong dan ureung seumapa.  

KEEMPAT

Linto dan Pengapet Linto

rombangan peungapet linto yang biasanya terdiri dari para pemuda, teman-teman dari linto baro. Linto Baro ditempatkan pada posisi agak tersembunyi yakni di tengah-tengah para peungapet linto baro dan dipayungi dengan payong kuneng oleh salah seorang pengapet linto

KELIMA

Idang Peuneuwoe

barisan pembawa idang peuneuwoe dan bungong jaroe. Idang Peuneuwoe dan bungong jaroe yang telah dimasukkan dalam talam dan ditutup dengan sangee dengan motif dan corak yang berwarna warni. Dahulu hidang diusung oleh kaum perempuan gampong yang telah ditentukan. Biasanya adalah ureung ureung inong yang sudah berumur.

KEENAM

Rombongan Ureung Inong

rombongan pengantar linto baro, dan biasanya rombongan pengantar linto perempuan berjalan di depan,

KETUJUH

Rombongan Ureung Agam

sementara rombongan pengantar linto laki-laki berjalan di belakang;

 

 

                Bentuk bentuk iring-iringan dalam upacara linto ini bisa saja bervariasi sesuai dengan adat dan adat istiadat yang berkembang pada masing-masing komunitas masyarakat adat.  Namun yang paling penting diperhatikan adalah penataan iring–iringan itu serasi dengan urut-urutan rangkaian upacara adat intat linto itu sendiri.

                Demikian panduan ringkas dan sederhana penataan iring-iringan rombongan intat linto dalam adat perkawinan (adat meukawen) dalam masyarakat Aceh. Semoga panduan ringkas dan sederhana ini dapat dijadikan salah satu rujukan bersama dalam pelaksanaan adat perkawinan dalam masyarakat Aceh dewasa ini. []

Share this article