Pembahasan Kinerja

by Admin
img

                                                   Roy Satriadi

 

April 03, 2017 – Pertemuan pimpinan di lingkungan Majelis Adat Aceh yang terdiri atas Ketua MAA, Wakil Ketua 1 MAA, 4 orang Kepala Bidang MAA, Ketua Pemangku Adat, Sekretaris Pemangku Adat, dan sisanya dari Kepala Bagian dan Kepala sub bagian menghadiri pertemuan perdana dengan wakil ketua 1 MAA, Bapak M. Daud Yoesoef sesuai dengan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 821.29/169/2017 tentang perubahan atas Kep Gub Aceh Nomor 821.29/153/2014 tentang susunan pengurus majelis adat aceh pada majelis adat aceh tahun 2014-2019.

Pertemuan ini membahas restruktur anggota baik di tingkat dewan pengurus, dewan pemangku adat, serta pergantian kepala sekretariat yang baru. Dimana sebelumnya Bpk Syaiba Ibrahim menjabat Kepala sekretariat digantikan oleh Bpk Nyak Umar, SE sejak awal bulan Maret 2017. Dalam tanggapan bpk Ketua MAA disampaikan bahwa selain pengurus dan pemangku adat, di tingkat sekretariat juga sudah dilatih dan diregenerasi ilmu-ilmu terkait seperti dengan Sanusi M Syarif sebagai ahli tata ruang adat, El Amin dengan lingkungan hidup dan narkoba, irwadi dengan kekerasan perempuan dan anak. Ketiga hal ini harus dibangun dan dilatih terus – menerus untuk melahirkan insan-insan yang ahli dibidang tersebut nantinya.

Website di tahun 2017 juga dibahas karena ada pergantian tim pengelola. Website sebagai penyampaian informasi yang lebih universal, diharapkan dapat dikelola dengan lebih baik, isi artikel yang lebih kuat, dan tampilan yang lebih lembut. Untuk artikel yang ditulis oleh para dosen  atau tenaga ahli diharapkan dilakukan lobi sehingga tulisan artikel di website dapat menjadi poin penunjang angka kredit untuk fungsional tertentu.

Hal lainnya yang dibahas yaitu tindak lanjut pengurus untuk pergub nuansa adat di setiap kantor pemerintahan, masalah buku yang akan diterbitkan pada tahun ini, kenduri adat, informasi di koran nasional dan lokal, dan terakhir didiskusikan tentang Barus yang baru saja diresmikan sebagai titik nol peradaban islam di Nusantara (rs).

 

 

 


Share this article