Pembekalan Muatan Lokal Pengetahuan Adat Istiadat dan Kebudayaan di SPN Seulawah

by Admin
img

                                                                    Mukhlis

Senin 27 Februari 2017| Ketua Majelis Adat Aceh H.Badruzzaman Ismail, SH,. M.Hum menghadiri undangan Kepala Sekolah Polisi Negara  di Seulawah kabupaten Aceh Besar.  Adapun  dalam acara kegiatan pembekala  muata lokal  pengetahuan  adat istiadat dan kebudayaan  ketua MAA  membahas materi mengenai  “Eksistensi  Adat/ Adat Istiadat  dan Kebudayaan Dalam Masyarakat Aceh. dalam pembahsannya membahas .

A.  BUDAYA DAN  ADAT

1.      Pengertian Budaya dan Adat Istidat / Adat

2.      Lembaga-lembaga Adat di Aceh

3.      Gampong dan Mukim (Wilayah Masyarakat Adat)

4.      Perangkat Adat Gampong dan Mukim

5.      Dimensi Manfaat Adat Istiadat

6.      Skema Kultur dan Struktur Koordinasi Adat

7.      Perilaku Adat Isiadat dalam Keseharian

8.      Prilaku Adat Istiadat Antar Lintas dalam Masyarakat

9.      Beberapa Sikap Prilaku  dalam Budaya Adat Aceh

10.  Beberapa Sikap Prilaku Adat Tabu/ Larangan  dalam Budaya Adat Aceh

 

B.     PERADILAN ADAT

1.      Pengertian Peradilan Adat

2.      Kompetensi dan Wewenang Peradilan Adat

3.      Dasar-dasar Hukum Peradilan Adat

4.      Polmas FKPM dan Kamtibmas

5.      Delik-delik dalam Peradilan Adat

6.      Sanksi-sanksi Peradilan Adat

7.      Hukum Acara Peradilan Adat (Prosesi Penyelesaian Sengketa

8.      Administrasi Peradilan Adat

9.      Eksekusi Peradilan Adat 

 

 

1.       Pengertian Budaya dan Adat Istidat / Adat

      Budaya adalah buah pikiran, akal budi yang selalu berproses, akibat interaksi dengan sesama manusia, wilayah lingkungan dan ruang waktu, menghasilkan “ nilai-nilai kreasi “ untuk dinikmati sebagai acuan harkat/ martabat dalam membangun peradaban dunia ( civilization of human being )

       Adat sebagai aspek budaya merupakan segmen-segmen bangunan integritas kebiasaan dan norma-norma yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat. Kultur dan struktur masyarakat Aceh nilai-nilainya bersumber dari nilai-nilai Islami: Adat bersendi syara’ dan syarak bersendi Kitabullah.  ( Narit maja : “ Adat ngon hukom ( agama ), lagei zat ngon sifeut,  melahirkan nilai-nilai filosofi, way of life/ pandangan hidup masyarakat :  “Adat bak Poeteumeureuhom, Hukom bak Syiah kuala, Qanun bak Putroe phang, Reusan bak Lakseumana[1].

C.     ADAT MELAHIRKAN DUA KRITERIA PELAKSANAAN

Pertama : adat istiadat bermakna sebagai kebiasaan / adat istiadat masyarakat dalam bentuk upacara / seremonial, seni, keindahan, gerak, apreasiasi pisik non pisik( makanan, pakaian, ornemen ) dalam berbagai kreasi yang komersial ( manfaat ekonomi, dakwah dan pendidikan )

Kedua:  adat bermakna kaedah/ normatif/ tatanan prilaku sebagai hukum adat, dalam bentuk kelembagaan dan materi-materi hukum/ aturan untuk mengayomi dan memberikan sanksi-sanksi kepada pelanggar tatanan masyarakat yang berintikan penyelesaian damai.


    [1] Pou Teumeureuhom; simbol pemegang kekuasaan. Syiah Kuala : simbol hukum syari’at/ agama dari ulama. Qanun : Perundang-undangan yang benilai agama dan adat dari badan legeslasi yang terus berkembang. Reusam : Tatanan protokuler / seremonial adat istiadat dari ahli-ahli adat yang terus berjalan. Pengembangan nilai-nilai tatanan ini, mengacu kepada sumber asas, yaitu ” Agama ( hukum ) ngon Adat, lagei zat ngon Sifeut ”

2. Lembaga-lembaga Adat di Aceh (UU.No.11 Tahun 2006 Pasal 98 ayat (3)

1.   MAA adalah Majelis Adat Aceh (Prov)- MAA Kab/ Kota dan  MAA Kecamatan

2.  Imeum Mukim atau nama lain adalah nama Titelatur pimpinan/ Kepala wilayah   

      Pemerintahan  Mukim langsungb di bawah Kecamatan.

3.  Imeum Chiek atau nama lain adalah Imam Besar Mesjid tingkat Mukim/ pimpinan bidang

     keagamaan

4.   Keuchik atau nama lain adalah Kepala Gampong/ Desa yang memimpin pemerintahan

      Desa

5.  Tuha Peut atau nama lain adalal sebagai pembantu, perencana dan pengawas pada setiap

      Gampong/ Desa. Unsur-unsur Tuha Peut (ulama pemerintah tokoh adat dan cerdik panai

6.  Tuha Lapan atau nama lain (fungsi dan tugasnya sama dengan Tuha Peut tambah unsur  

      perempuan pemuda dermawan tokoh masyarakat )

7.   Imeum Meunasah atau nama lain (Imam ) aalah pimpinan bidan keagamaaan di Gampong

8.   Keujrun Blang atau nama lain adalah Pimpinan / pembina urusan pertanian persawahan/

       pengairan

9.      Panglima Laot atau nama lain adalah Pawang pimpinan urusan penangkapan ikan di laut

dengan segala perlenhkapannya

10.  Pawang Glee atau nama lain adalah Pawang pimpinan uusan berkenaan dengan wilayah

       hutan/ bukit/ gunung pada kawasan adat

11.  Peutua Sineubok atau nama lain adalah Peutua/ Pimpinan wilayah kawasan gunung/ bukit yang berkaitan dengan pembukaan dan pembinaan kebun

12.  Haria Peukan atau nama lain adalah Pimpinan urusan pembinaan dan perawatan

kehidupan  pasar-pasar pada wilayah Kecamatan Mukim an atau Gampong

13.  Syahbandar atau nama lain adalah Pimpinan urusan kelur masuk kapal / perahu/ boat dan

lain- lain pada pelabuhan/ muara sungai dsb

 

3.      Gampong dan Mukim Wilayah/ Kawasan Adat (wilayah pembinaan adat)

Kawasan Gampong:

      Gampong atau nama lain adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung berada di bawah Mukim atau nama lain yang menempati wilayah tertentu yang dipimpin oleh Keuchik atau nama lain dan berhak menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri

        Kawasan Mukim:                                                                                        

      Mukim atau nama lain adalah kesatuan masyarakat hukum dalam Provinsi Nanggroe Aeh Darussalam yang terdiri atas gabungan beberapa gampong yang mempunyai batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, berkedudukan langsung di bawah Camat atau nama lain yang dipimpin oleh Imeum Mukim atau nama lain  

4. Perangkat Adat Gampong dan Mukim (Nomenklatur dan Titelatur Perangkat)

A.   Gampong :

  1. Keuchik (Pesisir( -(Rejee  (Gayoe)- Datuk Penghulu (Tamiang) adalah Pemimpin / Kepala Gampong/ Desa/ Pemimpin tertinggi Gampong)
  2. Imam/ Tgk-Saagoe.Imam pemimpin bidang agama tingkat gampong
  3. Tuha Peut ( Pesisir)- Sora opat (Gayoe)- MDS (Tamiang)- ….. (Alas)
  4. Sekretaris Gampong adalah pejabat yang mengelola tugas-tugas  admnistrasi  umum dan keuangan yang berkenaan dengan pemerintahan gampong sesuai dengan ketentuan yang berlaku
  5. Pusat/ sentra  kegiatan gampong dilakukan di Meunasah (Pusat budaya adat
  6. Fungsi Meunasah: pusat kegiatan gampong- tempat pendidikan/ pengajian-tempat shalat jamaah-tempat musyawarah-tempat diskusi / kreasi dan  pengembangan seni/ dhikir dsb- pusat informasi

B.    Mukim

  1. Imeum Mukim adalah nama Titelatur pimpinan/ Kepala wilayah  Pemerintahan Mukim langsungb di bawah Kecamatan.
  2. Imam Chik lain adalah Imam Besar Mesjid tingkat Mukim/ pimpinan bidang keagamaan
  3. Tuha Peut Mukim adalal sebagai pembantu, perencana dan pengawas pada setiap Mukim. Unsur-unsur Tuha Peut (ulama pemerintah tokoh adat dan cerdik panai pada tingkat Mukim)
  4. Sekretaris Mukim adalah pejabat yang mengelola tugas-tugas  admnistrasi  umum dan keuangan yang berkenaan dengan pemerintahan Mukim  sesuai dengan ketentuan yang berlaku
  5. Pusat/ sentra  kegiatan Mukim dilakukan di Mesjid (Pusat budaya adat)
  6. Fungsi Mesjid :pusat kegiatan Mukim- tempat pendidikan/ pengajian-tempat shalat jamaah-tempat musyawarah-tempat diskusi / kreasi dan  pengembangan seni/ dhikir dsb- pusat informasi

 7.Dimensi Manfaat Adat dalam Masyarakat

1.      Dimensi ritualitas / agamis dimaksudkan himpunan prilaku adat yang sarat dengan nilai-nilai tatanan adat/ adat istiadat, penuh dengan nilai-nilai syariat Islam untuk mencapai kesejahteraan baik pribadi maupun masyarakat (Do’a dan Dakwah)

2.      Dimensi ekonomis/ kebutuhan hidup dimaksudkan suatu dinamika adat/ adat istiadat yang mengandung nilai-nilai motivasi kehidupan ekonomi melalui  kreativitas individu dan masyarakat dalam berta’arafu antar sesamanya, wujud silaturrahmi/ tolong-menolong dan saling membutuhkan, membentuk kebiasaan-kebiasaan/ adat mendorong kehidupan ekonomi

3.      Dimensi pelestarian lingkungan hidup dimaksudkan kebiasaan/ adat yang mendorong untuk membangun lingkungan, bagi kelanjutan kehidupan generasi masa depan dengan penghijauan

4.      Dimensi norma/ hukum, dimaksudkan bahwa dalam nilai-nilai adat istiadat itu mengandung norma/ kaedah hukum untuk diterapkan dalam menyelesaikan berbagai sengketa dalam masyarakat mewujudkan suatu kondisi keseimbangan ( equilibrium )

5.      Dimensi kompetitif dimaksudkan dengan prilaku kegiatan adat budaya, mendorong kebanggaan identiatas diri, harkat dan martabat kaum dan masyarakatnya, menghasilkan berbagai produk untuk dapat bersaing dalam pasar kehidupan global

6.      Dimensi identitas dimasudkan suatu standar/ ukuran kebersamaan masyarakat beradat yang memiliki khazanah prilaku ( adat ngon agama lagei zat ngon sifeut ) menjadi suatu energi positif yang berdaya guna dan berhasil guna untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat

 

Share this article