Pendekatan Kultural Dalam Penguatan Kapasitas Kearifan Lokal

by Admin
img

PENDEKATAN  KULTURAL DALAM PENGUATAN
KAPASITAS KEARIFAN LOKAL
 Oleh; Badruzzaman Ismail, SH,M.Hum

Disampaikan Pada:

Kegiatan Penguatan Kapasitas Kearifan Lokal

Dinas Sosial Aceh

12 Agustus 2017

 

1.        PENGERTIAN ADAT ACEH DARI ASPEK BUDAYA

”Adat ta junjong, hukom tapeutimang Qanun ngon reusam wajeib ta jaga”

 Adat/ adat istiadat, dalam realitas sosiologis kehidupan masyarakat Aceh tumbuh menjadi dua bentuk, yaitu:

1.       ”Adat” sebagai ”Adat istiadat”

                Adat istiadat sebagai reusam yang melahirkan aneka apresiasi /kreasi, upacara/ seremonial ritualitas, aneka seni tarian, etika, estetika, modifikasi pakaian dan makanan serta produk keindahan pisik yang monumental, cagar budaya dan ornemen-ornemen sepesifik lainnya yang umumnya mengandung nilai-nilai komersial untuk dipasarkan

2.  ”Adat” sebagai ”norma/ kaedah hukum”

               Adat sebagai norma/ kaedah hukum” diaktualkan dalam sistem penyelesaian berbagai persengketaan dalam masyarakat melalui lembaga penegakan hukum adat/ peradilan adat/ lembaga damai yang mengandung sanksi di Gampong-gampong dan Mukim( asas: cepat, murah dan sederhana)

 Kedua makna adat itu, dikembangkan dalam tema :  ”PEUKONG PAGEU GAMPONG”

3.    Budaya sebagai buah pikiran, akal budi selalu muncul berproses, akibat interaksi dengan wilayah lingkungan dan ruang waktu,  menghasilkan “nilai-nilai/ kreasi “untuk dinikmati, bermanfaat menjadi acuan harkat / martabat dalam membangun peradaban dunia ( civilization of human right ;Badruzzaman)

4.  Peradilan adat adalah Peradilan Damai yang dilaksanakan di luar Sistem Peradilan Nasional berdasarkan Undang-undang dan aturan-aturan khusus yang berlaku  

 

2.       FAKTOR-FAKTOR TERBENTUKNYA MASYARAKAT HUKUMM ADAT

       Ada tiga faktor yang mendominasi  terbentuknya masyarakat dari aspek Hukum Adat, sehingga memiliki iko-sistem kawasan/ wilayah untuk membangun kehidupan yang sejahtera dan berkeadilan dalam masyarakat yang akhirnya bergabung dalam sistem negara seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua faktor itu adalah faktor genealogis dan faktor teritorial.

       Faktor Genealogis yaitu faktor yang penguasaan wilayah, melandaskan kepada pertalian darah, pertalian suatu keturunan sehingga mendominasi suatu pengaruh terhadap kekuasaan lingkungan (nenek moyang/ indatu).

       Faktor Teritorial  yaitu faktor yang penguasaan wilayah, melandaskan pada keterikatan suatu wilayah/ daerah tertentu secara alami, turun temurun sehingga mendominasi kekuasaan  terikat  dengan lingkungan wilayahnya (Surojo W, 1979:87)

       Ada juga yang mengatakan 3 Faktor yaitu : genealogis, teitorial dan gabungan masyarakat keduanya

3.        NILAI-NILAI FILOSOFIS BUDAYA ADAT ACEH

                  “ ADAT NGON HUKOM, LAGEI ZAT NGON SIFEUT “

Aceh, terdiri dari berbagai sub.etnis keacehan, namun budaya prilaku orang Aceh, memiliki spesifikasinya yang menyatu, tumbuh dan berkembang sejalan dengan nilai-nilai Islami menjadi adat/ adat istiadat sebagai energi membangun tatanan kesejahteraan hidup bersama dalam masyarakat. Budaya sebagai buah pikiran, akal budi selalu muncul berproses, akibat interaksi dengan wilayah lingkungan dan ruang waktu,    menghasilkan “nilai-nilai/ kreasi “untuk dinikmati, bermanfaat menjadi acuan harkat / martabat dalam membangun peradaban dunia ( civilization of human right )

Pengertian :

Adat adalah  suatu proses interaksi komunikasi manusia yang menghasilkan kebiasaan-kebiasaan  menjadi suatu  panutan yang bertujuan untuk melindungi kepentingan bersama dalam membangun kesejahteraan

Akomodasi Adat ( dinamika potensi kreasi kebiasaan-kebiasaan ) masyarakat pada tataran  kelompok yang lebih luas dapat melahirkan budaya ( kultur ) yang bila terus meluas menjadi suatu peradaban   ( civilization )

Adat Aceh sebagai aspek budaya merupakan  segmen-segmen bangunan integritas adat dengan  nilai-nilai agama ( syariat ), menjadi “ Adat ngon ( hukom )lagei zat ngon sifeut “),

Maksudnya ” nilai-nilai adat Aceh menyatu dengan nilai-nilai agama. Karena itu filosofi adat Aceh, menjadi patron landasan Budaya Ideal, dalam bentuk Narit Maja :

               “ADAT BAK POE TEUMEUREUHOM, HUKOM BAK SYIAH KUALA,  ANUN BAK PUTROE   

                 PHANG,  REUSAN BAK LAKSEUMANA“.

 

 Pou Teumeureuhom; simbol pemegang kekuasaan. Syiah Kuala : Simbol hukum syari’at/ agama dari ulama. Qanun : Perundang-undangan yang benilai agama dan adat dari badan legeslasi yang terus berkembang. Reusam : Tatanan protokuler / seremonial adat istiadat dari ahli-ahli adat yang terus berjalan. Pengembangan nilai-nilai tatanan ini, mengacu kepada sumber asas, yaitu ” Agama ( hukum ) ngon Adat, lagei zat ngon Sifeut ”

  

4.  Strategi Arah Kebijakan Adat Istiadat untuk Penguatan/ Pengakuan Masyarakat Adat  

      Mukim.

 

Ada 6 (enam) dimensi Nialai-nIlai Adat Istiadat yang perlu menjadi muatan Penguatan/ Pengakuan Masyarakat Adat Mukim, yaitu :

1.     Dimensi ritual: Setiap prilaku/ perbuatan adat  Aceh selalu disertai  dengan nilai-nilai agamis/ do’a

2.     Dimensi ekonomi : menghasilkan produk-produk  bernilai ekonomi, seperti kuliner, pertanian, motif pakaian, seni dan lain-lain

3.     Dimensi lingkungan :membangun lingkungan damai/ hijau dan berbuah/ indah serta pohon obat/ bunga

4.     Dimensi hukum: dengan norma-norma adat dapat menyelesaikan sengketa menuju damai yang rukun dan sejahtera (Peradilan Adat / Peradilan Damai)

5.     Dimensi kompetitif; menghasilkan nilai-nilai produk kebanggaan untuk menaikkan daya saing dengan daerah/ masyarakat/ bangsa lain

6.     Dimensi identitas: Membangun dan menegakkan harkat dan mmartabat/ daerah, sebagai wilayah produk/ mermbangun kebanggaan/ keunggulan menegakkan harkat martabat dalam peradaban global

 

5. BENTUK-BENTUK ADAT / ADAT ISTIADAT DAN HUKUM ADAT

           Bentuk-bentuk adat antara lain:

       Adat Perkawinan, seumapa dengan aneka macam prosesi kegiatan

       Adat Tron U Blang

       Adat tata sopan santun

       Adat berpakaian/ model pakaian

       Tarian, seniman, lukisan / ornemen

       Ekpressi seni, hikayat, nasib, dll

       Penampilan makanan dalam berbagai bentuk (kuliner)

        dll........

 

Bentuk-bentuk Hukum Adat:

     Hukom adat dalam perkawinan

     Hukom adat laot

     Hukom adat glee

     Hukom adat bloe-publoe

     Hukom adat Gampong

     Hukom adat batas wilayah

     Peradilan Adat/ Peradilan Damai/  Adat Nusapat “,

     Dll..........

 

6. Peradilan Adat (Undang-undang dan Qanun berkaitan dengan adat/ adat istiadat di Aceh)

            Undang-undang/ Peraturan:

             UUD,45  Pasal 18 B, ayat (1) ayat  (2)

       UU.No.44 Tahun 1999 ttg Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh

       UU.No.11 Tahun 2006 ttg Pemerinrahan Aceh

       Qanun No.3 Tahun 2004 ttg.MAA

       Qanun No.4 Tahun 2003 ttg Pemerintahan Mukim

       Qanun No.5 Tahun 2003 ttg Pemerintahan Gampong

       Qanun No.9 Tahun 2008 ttg Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat

       Qanun No.10 Tahun 2008 ttg. Lembaga Adat

       Kept.Bersama GUB, Polda dan Ketua MAA

       Pergub No,60 Tahun 2013

       Qanun No.9 Tahun 2008, Pasal 13

      ( 1 ) Sengketa/perselisihan adat dan adat istiadat meliputi:

       perselisihan dalam rumah tangga;

       sengketa antara keluarga yang berkaitan dengan faraidh;

       perselisihan antar warga;

       khalwat meusum;

       perselisihan tentang hak milik;

       pencurian dalam keluarga  (pencurian ringan);

       perselisihan harta sehareukat;

       pencurian  ringan;

       pencurian ternak  peliharaan;

       pelanggaran adat tentang ternak,  pertanian, dan hutan;

       persengketaan di laut;

       persengketaan di pasar;

       penganiayaan ringan;

       pembakaran hutan (dalam skala kecil yang merugikan komunitas adat);

       pelecehan,  fitnah, hasut, dan pencemaran nama  baik;

       pencemaran lingkungan (skala ringan);

       ancam  mengancam  (tergantung dari jenis ancaman); dan

       perselisihan-perselisihan lain yang melanggar adat dan adat istiadat.

( 2 ) Penyelesaian sengketa/perselisihan adat dan adat istiadat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselesaikan secara bertahap.

( 3 ) Aparat  penegak hukum  memberikan kesempatan agar sengketa/perselisihan diselesaikan terlebih dahulu secara adat di gampong atau nama lain.

7.        SANKSI-SANKSI YANG DIBOLEHKAN DAN TIDAK DIBOLEHKAN

10.Sanksi-sanksi  Hukum  Adat di Aceh
(Qanun No.9 Th.2008, BAB VII Pasal 16

       (1) Jenis-jenis sanksi yang dapat dijatuhkan dalam  penyelesaian sengketa adat sebagai berikut:

      nasehat;

      teguran;

      pernyataan maaf;

      sayam;

      diyat;

      denda;

      ganti kerugian;

      dikucilkan oleh masyarakat gampong atau nama lain;

      dikeluarkan dari masyarakat gampong atau nama lain;

      pencabutan gelar adat; dan

      bentuk sanksi lainnya

 

 

Penerapan sanksi yang tidak  dibolehkan(bertentangan dengan nilai-nilai agama dan adat) Diatur dalam SKB Gub. MAA dan Polda/ Des 2011

  1. Memandikan dengan air (kotor/ bersih)
  2. Menyakiti anggota badan (memukul)
  3. Mengarak
  4. Menggunting baju/ celana
  5. Menggunting rambut
  6. Melakukan tindakan-tindakan lainnya yang mengaurangi  martabat/ tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami

 

IDENTITAS KEACEHAN

MATEI ANEUK MUPAT JEURAT,

GADOH ADAT PAT TAMITA

                                                      Adat ban adat, hukom ban hukom.

Hanjeut meuron-ron kie nyang hawa

                                                       Watei mupakat adat ngon hukom,

Nanggroe rukon hana lei goga

 

Share this article