Pengelolaan Hutan Berdasarkan Adat

by Admin
img

Pengelolaan  Hutan Berdasarkan  Adat

Mukhlis


Secara umum pengelolaan  kawan  hutan  oleh masyarakat adat di Aceh meliputi beberapa aspek, antara lain : pola umum pemanfaatan  hutan, zona kawasan  hutan, fungsi hutan,  pengaturan  pemanfaatan  hutan, kewenangan  dan peran lembaga adat , kearifan  adat  pemanfaatan  hutan.

Pemanfaatan  hutan berdasarkan  tradisi, pemanfaatan kawasan  hutan  terbagi dalam  empat kegiatan  utama. Pertama  pemanfaatan  hutan  untuk  kegiatan  berladang (meuladang) dan berkebun (meulampoh). Kegiatan ini dipimpin  oleh petua ladang, peutua gle, atau peutua seuneubok. Kedua  kegiatan mengumpulkan  hasil hutan  non kayu, seperti rotan, damar, gaharu, geutah perca,  geutah jelutung, jernag. Ketiga kegiatan berburu  meliputi berburu rusa (meurusa) dan kijang (meuglueh). Keempat kegiatan  mencari ikan  (meu-eungkot) Khusus ikan keureuling (jurung) yang banyak  terdapat di hulu sungai  dalam hutan.

Fungsi hutan menurut adat berdasarkan  pengamatan  terhadap  kegiatan  pemanfaatan  kawasan  hutan  di Aceh, secara umum fungsi hutan  meliputi sumber pangan/protein hewani, ekonomi, obat-obatan, penyimpan air, bahan perumahan dan rekreasi.

Sumber pangan keluarga, hutan merupakan  sumber pangan  terpenting baik dalam situasi normal maupun darurat. Ada dua bahan  pangan  yang berasal  dari kawasan  hutan, yaitu janeng (gadung hutan) dan sagee (sagu). Kedua tanaman ini menjadi  andalan utama dalam  menghadapi scenario darurat pangan, terutama  menghadapi masa peciklik sebagai contoh, tradisi meujaneng di kalangan  masyarakat  tani di mukim lam leu ot dan sekitarnya  ( Aceh Besar) dan tradisi meusagee (meugolah  sagu) di pantai  Barat-Selatan  Aceh.

Setiap tahun khususnya  setelah  selesai  menyiangi rumput  di sawah yang merupakan gulman  bagi padi, kaum perempuan  di mukim tersebut melakukan  kegiatan  pengumpulan  janeng  untuk cadangan  pangan   atau  bekal  keluarga menghadapi paceklik. Kegiatan ini sebagai langkah berjaga-jaga apabila terjadi masa gagal panen. Hal ini dapat dimaklumi, karena  sawah-sawah di mukim tersebut pada masa dahulu masih  berupa tanda hujan  yang sangat  rentah  mengalami resiko kekeringan.

Khusus di pantai  Barat-Selatan Aceh, kawasan  hutan rawa/payau menjadi sumber penghasil sagu untuk kebutuha  pangan  keluarga. Tradisi mengolah  sagu di kawasan ini telah  memberikan  sumbangan  penting dalam  menghadapi masa paceklik, akibat  gagal panen  padi pada tahu 1970,  khususnya di Aceh Selatan.

Selain itu, hutan  juga  merupaka  penghasil bahan  untuk  gulai  daging (Aceh: Kuah beulangong),  daun paku, batang/bunga dan buah kala untuk bahan  gulai  berbagai jenis unggas dan ikan paya. Selanjutnya, hutan juga  menyediakan  kebutuhan  protein  keluarga, berupa daging hewan  burua  dan ikan  di sungai di dalam hutan.

Sumber protein  keluarga, berdasarkan tradisi, kegiatan  protein  hewani umumnya untuk kebutuhan  keluarga dan jarang sekali di jual. kegiatan tersebut antara lain : dalam bentuk  meurusa (berburu rusa), meuglueh (berburu kijang) dan meuengkot (mencari ikan) kegiatan  meurusa  dilakukan pada bulan-bulan tertentu agar tidak menggangu proses regenerasi hewan tersebut.

Pada masa sekarang kegiatan  meurusa telah  dilakukan  dengan cara bertentangan  dengan adat, yaitu. Pengunaan senjata api secara berlebihan dan tidak lagi dilakukan secara beramai-ramai dengan melibatkan warga gampong. Tetapi cenderung pada penyataan  terbatas  sekitar lima  hingga sepuloh orang  dan memijam senjata dari aparat keamanan. Buruannya pun bukan satu ekor melainkan beberapa ekor rusa, kegiatan  seperti itu tentu saja bertentangan dengan  nilai-nilai adat dan menurun populasi rusa di masa akan datang.

Sumber ekonomi utama dalam  dari dalam kawasan hutan  berupa hasil kayu dan non kayu. Hasil huta non kayu, seperti rotan, jernang, kayu alim, atau geharu,  buah jemblang ( jembe Kleng)  ceradi,  berangkah,  damar, madu dan lilin lebah. Pada saat ini, semua hasil hutan tersebut mempunyai ekonimo yang tinggi dan mempunyai nilai komparatif dalam  perdangangan. Hal ini karena dalam beberpa dari hasil hutan tersebut sudah sangat terbatas  dan hanya terdapat di daerah-daerah tertentu  saja di Aceh.  sebagai contoh, buah jemblang, jernang, madu lebah.

 

Berdasarkan dari pengamatan  yang penulis lakukan  terhadap kegiatan pengumpulan jamblang dari kawasan  lampanah leugah dan krung raya. Pada puncak musim jamblang tidak kurang  dari satu ton  buah jamblang di kumpulkan oleh pedagang dari petani pengumpul  dari krung raya dan sekitarnya. Kegiatan dan pengumpulan dan perdagangan  buah jamblang menyediakan lapagan kerja untuk ratusan jiwa. Mulai dari pemetik buah jamblang,  agen-agen pegumpul,  agen luar daerah hingga pengencer.

Keadaan serupa juga terjadi dalam  kegiatan pengumpulan madu lebah,  khususnya dari sentral penghasil madu.  Seperti dai aceh besar,  aceh jaya, dan aceh selatan.  Sedangkan hasil hutan berupa  buah jernag sedang sangat terbatas jumlahnya, begitu juga buah ceradi dan dammar. Selain itu, hutan juga  menjadi sumber keuangan atau pendapatan gampong,  melalui  pengutan wase ( cukai) adat atas hasil hutan. Seperti atas hasil pengumpulan  sarang burung walet,  kayu gaharu, buah durian dan hasil hutan lainnya.

Sumber obat-obatan  yang terdapat dalam kawasan hutan  Aceh,  khususnya obat-obat tradisional  meliputi tanaman  tungkat ali (pasak bumi), kulit batang jemblang, buah reum, buah laban dan  bahan pembuatan obat-obatan lainnya. selain itu  juga  terdapat baneng gle (kura-kura hutan) dan burung go-got yang  sering digunakan sebagai obat patah tulang.

Sumber air, Peran penting  hutan  dalam  tata air, telah  melahirkan  nilai-nilai yang  memberikan  perhatian  kepada  upaya perlindugan  jenis  tumbuh-tumbuhan  tertentu, khususnya tumbuh-tumbuhan  yang  menyimpan banyak  air. Seperti pohon  ara, tingkeum, rambung,  perlak, reubek,  dan sebagainya, khususnya jika tumbuhan  di sumber mata air atau  sepanjang sungai.

Sumber bahan pembuatan rumah,  rumah merupakan  kebutuhan  setiap keluarga, penyediaan  kebutuhan kayu untuk membangun rumah merupakan  hak adat, khususnya  bagi penduduk  gampong yang tinggal  di kawasan  yang  masih ada hutannya. Tradisi  pemanfaatan  kayu di hutan  untuk keperluan umum atau membangun  rumah  warga di temukan  hampir seluruh kawasan pedalama Aceh. sebagai contoh di gampong  bak sukon, mukim lam leu ot- Aceh Besar dalam proses pengambilan kayu di hutan  untuk keperluan  membangun rumah  pada umumnya  di gampong  dikukuhkan  dengan surat keterangan keuchiek,  surat tersebut digunakan sebagai rujukan  dasar bagi penegak hukum (kepolisian)  di kecamatan  indrapuri saat itu membenarkan penebang kayu membawa mesin potong kayu menuju kawasan hutan kegiatan ini terjadi pada tahun 1992.

Hutan merupakan kawasan rekreasi dan interaksi sosial yang pentig bagi masyarakat pedesaan. Khususnya dalam bentuk kegiatan  berburu dan mencari ikan di sungai.  Melalui kedua  kegiatan tersebut warga gampong dapat berbagi pengetahuan untuk meningkatkan  kemampuan terhadap penguasa informasi wilayah hutan .

 

Daftar Pustaka :

Sanusi M. Syarif. 2008. Menuju Pengelolaan  Kawasan Berbasis Mukim dan Gampong di Aceh Rayeuk. Bogor. JKPP dan YRBI

Sanusi M. Syarif 2001. Menuju kedaulatan Mukim  dan Gampong RIWANG U SEUNEUBOK. Jakarta. Yappika dan YRBI

T.I El Hakimy. 1984. Hukum Adat Tanah Rimba di Kemungkiman Luepueng Aceh Besar,  Laporan Penelitian. Banda Aceh. Pusat Studi Hukum Adat dan Islam Universitas Syiah Kuala.

 

Share this article