Perkembangan Peradilan Adat dan Adat Istiadat Dalam Masyarakat di Aceh (Penyelesaian Sangketa di Sekolah, Dayah dalam Masyarakat)

by Admin
img

 


PERKEMBANGAN PERADILAN ADAT DAN ADAT ISTIADAT
DALAM MASYARAKAT DI ACEH
( Penyelesaian Sengketa di Sekolah, Dayah dalam Masyarakat)
Oleh ; H.Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum
(Ketua Majelis Adat Aceh)

 

Disampaikan pada :

Kegiatan Majelis Adat Aceh Kabupaten Aceh Jaya di Calang

27-29 November 2017

 

         TEMPAT PILAR KEISTIMEWAAN LANDASAN PEMBANGUNAN ACEH
(uu.No.44 Tahun 1994 dan UU-PA No.11 Tahun 2006)

 

1.        Empat pilar keistimewaan (agama, adat, pendidikan dan peran ulama), harus kita cermati/ kita pelajari, karena ia merupakan landasan hukum, untuk membangun jiwa motorik pembangunan Adat budaya Aceh (bottom-up). Persoalannya adalah bagaimana kita gerakkan masyarakat untuk memberikan dukungan infra struktur dan prasarana yang dimulai dengan perencanaan/ master-plan yang mendasar dan berkelanjutan dalam melakukan program kegiatan.

      

1.          Keempat pilar ini menjadi ruang/ sumber inspirasi menggerakkan roh/ jiwa konsep perencaanaan pembangunan Adat Budaya Aceh:

 

·         Konsep pembangunan, wajib berorientasi kepada kesejahteraan rakyat(kemandirian / kreasi rakyat). Kalau orirentasi kepada kepentingan elit saja, akhirnya jadi berantakan dengan kemiskinan moral/ spiritual dan pisik masyarakat

 

·      Rakyat harus membangun etos kerja keras, rajin dan  berencana untuk menggali berbagai sumber daya alam (SDA), untuk diolah dari rahmat menjadi nikmat. Masyarakat tidak boleh menjadi penonton di bumi / neggeri sendiri

 

·         Dari sudut negara dan pemerintahan Aceh harus membanbgun diri berlandaskan 4 pilar istimewa (landasan hukum), Untuk membangun perflu menghimpun kekuatan pemimpin an masyarakat secara bersama-sama sesuai engan pesan narit maja, sebagai berikut:     

   ”Rok ngon bara, bak ureung nanggroe

Pasoe bajoe bak ureung tuha

Tameih teungoh, bak pemerintahan (Uleebalang)

Peutrang puteih-hitam bak ulama”  

Pukat meukaja, Umong Meu-ateung, Ureung meupeutua

 

2.      Pengertian Budaya dan Adat Ace dalam Perencanaan Pembangunan

 

Budaya adalah buah pikiran, akal budi yang selalu berproses, akibat interaksi dengan sesama manusia, wilayah lingkungan dan ruang waktu, menghasilkan “nilai-nilai kreasi“ untuk dinikmati sebagai acuan harkat/ martabat dalam membangun peradaban dunia (civilization of human being) 

 

 Adat sebagai aspek budaya merupakan proses intern action antar manusia sehingga menjadi kebiasaan dan norma-norma yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat. Kultur/ adat budaya dan struktur masyarakat Aceh nilai-nilainya bersumber syari’at Islami membangun bentuk dan sifat Adat Aceh yang Islami.: Adat bersendi syara’ dan syarak bersendi Kitabullah. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan Adat dikembangkan dalam dua kriteria, yaitu adat dan adat istiadat

 

Adat istiadat berkaitan dengan kegiatan dan penampilan sehari-hari, seperti adat sopan santun, makanan, kuliner, pakaian, seni, tarian, arsitektur dan lain-lain.

 

Adat berkaitan dengan norma/ kaedah hukum semua perbuatan ada akibat hukum.

 

   •  Peradilan Adat; lembaga(Gampong dan Mukim) yang mendapat tugas menyelesaikan  suatu sengketa dengan sanksi adat (adat/ adat istiadat/ kebiasaan setempat) berdasarkan musyawarah Perangkat Gampong/ Mukim T), Keuchik, Tgk.Imeum, Tuha Peut / Tokoh- tokoh-tokoh adat setempat berdasarkan persetujuaan para pihak musyawarah mufakat (adat Musapat).

 

 ( Narit maja : “ Adat ngon hukom ( agama ), lagei zat ngon sifeut,  melahirkan nilai-nilai filosofi, way of life/ pandangan hidup masyarakat :  “Adat bak Poeteumeureuhom, Hukom bak Syiah kuala, Qanun bak Putroe phang, Reusan bak Lakseumana“ [1].


    [1] Pou Teumeureuhom; simbol pemegang kekuasaan. Syiah Kuala : simbol hukum syari’at/ agama dari ulama. Qanun : Perundang-undangan yang benilai agama dan adat dari badan legeslasi yang terus berkembang. Reusam : Tatanan protokuler / seremonial adat istiadat dari ahli-ahli adat yang terus berjalan. Pengembangan nilai-nilai tatanan ini, mengacu kepada sumber asas, yaitu ” Agama (hukum) ngon Adat, lagei zat ngon Sifeut ”

 

 

4. Filosofi Nilai-Nilai Adat Melahirkan  Motivasi Pemikiran : Harga Diri dan  Produktivitas Kerja SDM :

 

Pertama : adat sebagai sumber nilai/ adat istiadat masyarakat dalam bentuk upacara/ seremonial,seni,keindahan, gerak, apreasiasi pisik non pisik(makanan, pakaian, ornemen) dalam berbagai kreasi yang komersial(manfaat ekonomi), dakwah dan pendidikan (memiliki sesuatu kebanggaan/ harga diri), misalnya rapai daboh, dikir, saman, dalail, tarian.

 

Kedua:  adat bermakna kaedah/ normatif/ tatanan prilaku sebagai adat sopan santun hukum adat, dalam bentuk kelembagaan dan materi-materi hukum/ aturan untuk mengayomi dan memberikan sanksi-sanksi kepada pelanggar tatanan masyarakat. Penyelesaian sengketa dalam bentuk damai (Peradilan Adat Aceh) di Gampong-gampong dan Mukim.

 

Pelaksanaan ketentuan Pertama dan Kedua wajib berbasis Syari’at Islam. Adat yang bertentangan dengan Syari’at, bukan adat Aceh(Adat ngon hukom, lagei zat ngon sifeut hanjeut crei-brei). Karena itu semua warga(masyarakat)Aceh wajib a’in (muthlak) belajar agama Islam). “Agama Islam di Aceh seujak indatu, hanjuet meu sigitu na ureung tuka”

                    “Tanda Mesjid ngon Meunasah, Aceh meugah ban saboh donya”

                  “Riwayatnyan dalam seujarah, benteeng musyawarah pejuang bangsa”

 

 

5.  Adat Aceh Sumber Pokok Pilar (Ikon) Pembangunan Harkat, Martabat, Peradaban

AlQur’an:  Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghasilan untukmu . (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur   (Q, Al-A’raf : 10).

 

Teori Adat :“Tanoh leumiek keubeu meukubang, leumoh go parang gob Panglima Peu ta peugo tingat keumatei, mak meusampei hudeip geutanyoe (dunia akhirat). 

      “ Bandum nanggroe, akan phang-phoe, meungnyoe rakyat beu-oe  lalee meudawa”

·      Perlu ada konsep dalam membangun kehidupan. Tujuan Nilsi/ Value/ (amaliyah. Pada nilai tingkatan, yaitu nilai primer (pokok) dan nilai sekunder (tambahan)nilai primer merupakan pegangan hidup bagi masyarakat(abstrak), misalnya : kejujuran, keadilan, keluhuran budi dan lain-lain, sedangkan nilai skunder  adalah nilai-nilai berhubungan dengan kegunaan, misalnya dasar-dasar bagaimana membuat pekerjaan hidup itu lebih mudah, seperti menggunakan teknologi (mesin-mesin, dsb).misalnya negara Jepang. Kemajuan yang dicapai oleh Jepang, karena orang mempertahankan nilai-nilai primernya, dan mengubah nilai-nilai skundernya dengan saien dan teknologi.

 

·     Nilai primer pegangan hidup (meyakini agama, menghormati orang tua, menghormati guru. Nilai skunder adalah bagaimana  membangun kehidupan ini supaya mudah (saien dan teknologi), seperti kenderaan , HP dll

 

·      Alqur’an nilai Value Islami dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu , tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain). Sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Allah tidak menyukai orang yang berbuat  kerusakan (Q, Al-Qashash: 77).

 

6. Perkembangan Peradilan Adat dalam Masyarakat Aceh

 

• Sebelum tahun 2003, kehidupan adat/ peradilan adat dan adat istiadat belum berkembang secara terorganisasi dan kelembagaan. Adat istiadat berjalan biasa yang dilakukan oleh masyarakat. Sengketa-sengketa juga diselesaikan menurut cara dan pertimbangan masyarakat masing-masing (pribadi, gampong dan atau mukim). Pada umumnya hampir semua sengketa dalam masyarakat ditangani oleh Polisi. Para tokoh adat (Keuchik / Mukim dan Tuha Peut hampir tak ada peran sama sekali.

 

• Sejak tahun 2003 setelah MAA terbentuk, maka tugas utama adalah membangun manajemen lembaga MAA Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan Kecamatan. Selanjutnya  sampai sekarang  terus menerus mengembangkan programnya melalui  Program  kagiatan MAA Prov. Kab/ Kota.

 

• Hasil survey Bappenas  bersama UNDP, tahun 2014, Peradilan Adat Aceh  90 % masyarakat merasa puas. Tahun 2016 survey lembaga yang sama untuk  Aceh, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Tengah, 90 % lebih masyarakat juga merasa puas dengan Peradilan Adat.

Pada tanggal 16 Desember 2016, Ketua MAA Aceh diberi penghargaan oleh Menteri Bappenas  di Jakarta tentang keberhasilan Peradilan Adat menjadi contoh standar nasional.

 

• Alhamdulillah ada 18 items materi hukum adat (Tipiring) Pasal 13 dan Sanksi hukm adat Pasal 16 Qanun No.9 Tahun 2008, yang dikembangkan lebih lanjut dengan SKB Gu,Kapolda  dan Ketua MAA serta PerGub No.60 Tahun 2013  tentang Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa / Perselisihan Adat dan Istiadat di Gampong-gampong dan Muklim.

 

7. Perkembangan Adat Istiadat Dalam Masyarakat Aceh

 

• Perkembangan sejak tahun 2003 sudah muncul kembali sebagian dari kegiatan adat dalam acara-acara perkawinan, seperti adat seumapa, bawaan perangkat perkawinan sudah tutup dengan Sangee dalam Idang, sudah mulai bangga pakai pakaian pelaminan Aceh dan acara-acara adat lainnya.

 

• Masyarakat sudah mulai bangga kembali penampilan memakai pakaian Aceh pada berbagai-bagai acara dan upacara/ model pakaian daerah, makanan, kuliner/ kue, minuman/ kopi/ promosi dll.

• Namun penampilan di bidang bentuk adat istiadat lainnya, masih sangat rendah, terutama dalam hal-hal :

a. Adat sopan santun dengan orang tua, murid dengan guru, orang tua/ tokoh-tokoh masyarakat  dengan anak-anak muda/ mudi/ anak  didik

b. Adab/ akhlak dalam pergaulan/ dalam dagang bisinis, tidak jujur, suka berbohong dalam jual beli. Pakai karbet buah-buahan, formalin dalam makanan/ minuman, tumpuk, kiloan, kemasan dan kualitas mutu, dst

c. Malas bekerja, berkebun, meladang, tanah-tanah banyak terlantar tidak menanam apa-apa, seperti kebun kelapa, mangga, kuini, pohon-pohon obat, buah-buahan, bunga  dsb

d,  Malas menulis/ mengarang tentang implimentasi adat, misalnya mengarang buku bacaan anak-anak/ komik, hikayat, syair/ pantun, menulis buku adat blang/ adat lampoh/ adat gle, adat ternak dsb

e,  Kesenian, rapai/ nasyid/ qasidah, tarian, dram

Share this article