Putroe Phang MAA Gelar Sosialisasi Adat di Pulau Weh, Sabang

by Admin
img

MAA.ACEHPROV.GO.ID. SABANG - Bidang Putroe Phang Majelis Adat Aceh (MAA) kembali menggelar Sosialisasi Adat Istiadat di gampong Cot Bak U Kecamatan Suka Jaya, Pulau Weh Sabang, Senin (16/4/ 2017) lalu.

Rangkaian kegiatan berlangsung meriah dan penuh keakraban. Turut hadir dalam acara ini antara lain Pemangku Adat, Hj Cut Ismi dan Ibu Rahmi. Selain itu juga hadir Staf Sekretariat Majelis Adat Aceh, Kamal. Serta para fasilitator kegiatan yaitu Ibu Erwani SE, Anton Maryono S.Sos dan Mayanti, SE.

Dalam kesempatan tersebut juga turut diserahkan ‘Bungoeng Jaroe’ berupa satu Sarung Kasur Kasab, 2 Bantal Panda, 4 Bantal Panjang, 2 Tikar Duduk Kasab, 2 Kipas Aceh Kasab, 4 Talam, 4 buah Sange, 4 lembar Seuhab, 4 lembar Kain Bungkus Idang dan satu Payung kasap Aceh dan 1 buah Batee & Ranub. Selanjutnya juga berupa Gula Pasir sebanyak 5 kg, Kopi 1 kg, Teh bungkus, Susu Kental Manis 5 Kaleng dan satu idang Kue Khas Aceh.

Bungoeng jaroe yang dibawa oleh Ibu-ibu Putroe Phang ini merupakan simbol untuk acara-acara adat.

Ketua Bidang Putroe Phang MAA Provinsi Aceh, Dra. Hj. Zulhafah Luthfi, MBA, M.Si menjelaskan bahwa acara ini dimaksudkan untuk menggali kekayaan khasanah sekaligus melestarikan kembali adat istiadat di tengah-tengah masyarakat Sabang.

“Melalui kesempatan sosialisasi adat ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat di daerah ini dan bisa lebih mengenal adat istiadat gampong setempat,” terang Hj Zulhafah.

Menurut Ibu Zulhafah Luthfi, Bidang Putroe Phang MAA yang didalamnya berkumpul Perempuan Adat secara simultan akan terus berupaya membina dan mensosialisasikan pembangunan adat istiadat ke sejuruh penjuru Serambi Mekkah. “Karena hal ini selaras dengan peran tugas pada bidang Putroe Phang,” ungkapnya.

Peranan dan tugas ini, jelas Hj Zulhafah, termaktub dalam Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan  Propinsi  Daerah Istimewa Aceh dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, serta Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat.

Dengan demikian, papar Hj Zulhafah, Pemerintahan Aceh wajib melaksanakan pembangunan di bidang Adat dan Adat Istiadat. Kemudian Lembaga keistimewaan Aceh yang melaksanakan pembangunan bidang Adat Istiadat adalah Majelis Adat Aceh (MAA), sesuai dengan Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Majelis Adat Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat.


Apresiasi dari Putroe Phang

KETUA Bidang Putroe Phang Dra. Hj. Zulhafah Luthfi, MBA, M.Si menyampaikan apresiasi atas penyambutan Ibu-ibu PKK dan tokoh Masyarakat Gampong Cot Bak’ U, Sabang. “Anggota Putroe Phang sangat senang dan bahagia atas sambutan Ibu-ibu PKK dan tokoh Masyarakat. Tujuan kedatangan kami adalah untuk bersilaturahmi dengan masyarakat gampong dan berkeinginan menggali Adat dan Adat Istiadat yang masih dijalankan dan dilestarikan di gampong ini,” ujarnya.

Hj Zulhafah mengatakan bahwa salah satu peran Ibu-ibu di Putroe Phang adalah menggali adat-adat yang masih dijalankan di Gampong tersebut. “Seperti adat Perkawinan, Kehamilan, melahirkan, sampai adat kematian serta kenduri adat yang masih dijalankan,” terang Ibu Zulhafah Luthfi.

Ia juga menegaskan bahwa adat merupakan jati diri seseorang atau harta yang harus dilestarikan. “Sebab tanpa adat kita tidaklah bernilai atau tidak memiliki jati diri dan dipandang rendah oleh orang lain dan kita harus bisa memperkenalkan Adat dan Adat Istiadat kita dimata dunia,” tukasnya.

Dalam sambutannya, Hj Zulhafah juga meminta segenap masyarakat dan Pemda Kota Sabang untuk senantiasa melestarikan areal wisata di Sabang, apalagi pulau Weh kini sudah terkenal dengan panaroma laut yang indah dan menakjubkan.


Masyarakat Sangat Termotivasi

Pj Keuchik Gampong Cot Bak’ U Sabang, Akmalul Nazri mengungkapkan rasa bahagianya atas gelaran kegiatan sosialisasi tersebut. Ia mengatakan, kunjungan Ibu-ibu Bidang Putroe Phang MAA menjadi stimulus dan motivasi baru bagi masyarakat setempat. “Kami atas nama masyarakat Cot Bak U merasa sangat bahagia dan kunjungan ibu-ibu sudah membawa motivasi baru bagi masyarakat kami,” kata Akmalul Nazri.

Ia menjelaskan, setiap menggelar sebuah kegiatan pihaknya tetap mengadakan mufakat dan bermusyawarah terlebih dahulu. “Gunanya adalah untuk mengambil keputusan bagaimana rencana kegiatan tersebut seperti kegiatan pada hari ini, kami sudah jauh-jauh hari bermusyawarah dan mufakat bersama warga gampong untuk penyambutan ibu-ibu Putroe Phang,” jelas Keuchiek Akmal.

Lebih lanjut Ia merincikan, Gampong yang dipimpinnya itu, saat ini terdiri dari 5 (lima) jurong atau dusun, yang melingkupi 14 RT, dengan jumlah masyarakat 7.057 jiwa. “Sedangkan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 1.996 KK, yang terdiri dari beragam suku, saling hormat dan menghormati maka terciptalah kehidupan yang damai sejahtera,” pungkasnya.


Adat, Jati Diri Orang Aceh

Wakil Ketua MAA Sabang Tgk. Sulaiman Daud, S.Pdi mengharapkan semua komponen untuk meningkatkan kembali Adat dan Adat Istiadat yang menurutnya sudah terkikis akibat konflik Aceh berkepanjangan.

“Ini harus kita hidupkan kembali, misalnya adat kita yang sambut menyambut atau berbalas pantun dari kedua belah pihak, di sebuah acara perkawinan,” pintanya.

Posisi dan peranan Putroe Phang, kata Tgk Sulaiman, sangat menentukan sebagai penegak atau mempertahankan adat dan adat istiadat Aceh seperti zaman dahulu.  “Seperti pepatah mengatakan adat bak peutomeureuhom hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang reusam bak laksamana,”ungkapnya.

Sulaiman Daud menambahkan, adat Aceh yang sudah hilang seperti Seumapa, Woe Penganjoe, Seulangke dan Cah Rot harus diperkuat kembali. “Maka tugas dari bidang Putroe Phang untuk membina dan melestarikan kembali adat dan adat istiadat yang sudah hilang ini. Kalau adat dan adat istiadat Aceh hilang maka jati diri kita orang Aceh akan hilang,” kata Tgk Sulaiman, sembari mengungkapkan bahwa sekarang banyak perkawinan di Aceh sudah tidak lagi selaras menurut Adat Aceh. (TAH)


Share this article