TATA CARA PEH TAMBO

by Admin
img


Oleh : Rusdi Sufi

Tambo dalam bahasa Indonesia disebut beduk (orang Betawi juga menyebutnya beduk). Tambo sejenis gendrang besar yang ditempatkan pada mesjid-mesjid dan meunasah-meunasah yang dipukul / dibunyikan pada saat-saat tertentu, khususnya untuk mengingatkan masyarakat bahwa waktu untuk seumayang (shalat) telah tiba. Selain itu menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia terbitan “Kartika” Surabaya tahun 1997, tambo juga berarti babad, hikyat, uraian sejarah suatu daerah, di mana di dalamnya sering bercampur dengan dongeng dan mitos. Contohnya yang disebut tambo Minangkabau (sejarah atau hikayat Minangkabau). Berdasarkan Atjehsch Nerderlandsch Woordenboek deel II (Kamus Bahasa Aceh – Belanda jilid 2, karya R. A. Hoesein Djajadiningrat, di halaman 951, menyebutkan bahwa tambo merupakan sejenis trom (tambur) besar, yang dibuat dari sebatang pohon kayu yang dilubangi dalamnya, di mana pada satu bagian sisinya diberi kulit sapi yang dikencangkan/ditarik agar tegang yang bila dipukul kulit tersebut akan mengeluarkan bunyi/suara nyaring.

Tambo merupakan bagian daripada sekian banyak cabang seni/budaya yang dimiliki oleh masyarakat di Provinsi Aceh. Masyarakat Aceh tempo dulu menggunakan tambo sebagai alat/media penyampaian informasi secara tradisiomal. Informasi yang disampaikan melalui bunyi tambo secara serentak kepada masyarakat dalam lingkup loal/setempat. Dan informasi yang berupa bunyi sebagai tanda atau isyarat ini telah menjadi kesepakatan bersama bagi masyarakat setempat. Sebagaimana diketahui pada setiap gampong (kampung) yang di Jawa disebut desa, di Aceh terdapat sebuah meunasah, sebagai tempat musyawarah dan ibadah bersama bagi warga gampong. Gabungan beberapa buah gampong yang letaknya berdekatan disatukan dalam sebuah unit wilayah/pemerintahan yang dinamakan mukim. Pada setiap mukim memiliki sebuah mesjid sebagai tempat ibadah bersama, khususnya pada setiap hari Jumat bagi warga mukim dan masyarakat lainnya. Dahulu, baik pada meunasah maupun pada setiap mesjid ditempatkan sebuah tambo. Dan tambo inilah yang difungsikan sebagai alat komunikasi/penyampaian informasi bahwa waktu shalat telah tiba. Artinya telah tiba waktu/saat untuk melakukan seumayang (shalat).

Selain itu tambo juga dibunyikan dalam rangka untuk mengumpulkan warga masyarakat agar ke meunasah guna membicarakan masalah-masalah gampong. Sebagaimana telah diebutkan di atas tambo juga berfungsi sebagai media penyampaian informasi. Misalnya untuk menginformasikan bahwa di gampong yang bersangkutan ada warga yang telah berpulang rahmatullah.

Untuk itu terlebih dahulu telah ada ketentuan-ketentuan atau kesepakatan bersama warga gampong tentang tanda atau isyarat daripada bunyi tambo (berpedoman pada bunyi tambo yang di peh / dipukul). Maka untuk ini telah ada ketentuan tentang tata cara peh tambo, agar sesuai dengan maksud dan bunyi yang berasal dari tambo tersebut. Tempo dulu, pada saat bulan puasa, tambo ini juga berfungsi untuk menginformasikan sudah tiba saatnya untuk berbuka puasa, juga untuk membangunkan warga gampong, khususnya kaum ibu supaya menyiapkan makan sahur.

Tentunya ketentuan-ketentuan yang berlaku atau telah disepakati dalam masyarakat Aceh (masyarakat yang berdomisili di provinsi Aceh) tata cara peh tambo ini berbeda-beda. Semenjak kapan tambo ini telah eksis dalam masyarakat Aceh, sulit untuk menentukannya. Tetapi jika kita teliti dari fungsinya (di mana ada nuansa-nuansa keagamaan) sebagai alat komunikasi untuk menetapkan waktu shalat, dalam upaya mengumpulkan masyarakat supaya ke meunasah atau ke mesjid, maka dapat diperkirakan tambo ini mulai terdapat dalam masyarakat Aceh, pada saat masyarakat Aceh telah memeluk agama Islam, maksudnya telah terbentuk suatu komunitas masyarakat yang Islami.

Ada beberapa jenis tambo, dalam Atjehsch Nederlandsch Woordenboek, disebutkan ada tiga jenis tambo, yaitu yang disebut tambo raja [(tambo milik sulthan/raja yang ditempatkan di kediaman raja yang dalam istilah Aceh disebut Dalam (istana)]. Dulu di samping tambo, Sulthan juga memiliki sebuah lonceng untuk dibunyikan pada waktu-waktu tertentu. Lonceng tersebut dinamakan Cakra Donya. Selanjutnya yang disebut tambo meuseugit (mesjid) yang ditempatkan pada mesjid dan tambo meunasah yang ditempatkan pada sebuah meunasah.

Adapun material atau bahan-bahan untuk membuat tambo yaitu pohon kayu. Biasanya pohon yang dalam istilah Aceh disebut bak. Pohon atau bak yang digunakan yaitu bak teue (pohon?), bak iboh (pohon iboh, sejenis pohon palem) dan ada juga yang menggunakan bak jok (batang enau). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari informan, bahwa kualitas tambo kayee yang paling baik, yaitu dari bak teue (pohon?), suaranya sungguh nyaring dan besar. Bahan lainnya yaitu kulet leumo (kulit sapi), dan yang baik ialah kulit sapi yang masih muda. Selain itu juga diperlukan awe (rotan) sebagai alat peregang / penarik kulit.

Ukuran tambo, besarnya sangat beragam. Hal ini juga tergantung kepada besar/kecilnya batang kayu yang digunakan. Pada meunasah-meunasah tertentu, di Aceh Rayeuk (Aceh Besar), malah ada yang menggunakan drum. Umumnya lebar sebuah tambo sekitar ½ meter dan panjangnya ada yang 2 meter dan 2 ½ meter. Selain tambo kayee ada juga tambo teumaga (tambo tembaga). Ada juga jenis tambo mainan yang disebut tambo meuneuen (tambo mainan). Untuk membunyikan tambo (peh tambo) diperlukan go tambo (tongkat pendek/pemukul tambo) 2 buah, atau sepasang. Satu dipegang dengan tangan kanan dan satu lagi dipegang dengan tangan kiri. Modelnya, bulat dan pada ujungnya juga agak bulat.

Untuk go tambo ini diperlukan kayu khusus yang ringan dan kuat. Biasanya untuk go tambo ini digunakan kayee (kayu) dari bak puenteut (pohon?). ada juga yang menggunakan dari bak teumira dan bak mane serta ada juga bak kacang lipeh lantoro). Tempo dulu untuk menyindir seorang perempuan yang sedamg hamil tua (besar) bila keluar rumah sering dikatakan jeh ka jime-me tambo (lihatlah dia sedang membawa-bawa tambo).

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa tata cara peh tambo ini berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya, di samping mungkin ada persamaan juga. Tambo di meunasah untuk beberapa wilayah di Aceh Besar, dibunyikan misalnya untuk akan diadakan rapat, dibunyikan/dipukul 2 kali. 1 kali sekitar ½ menit. Untuk gotong royong dibunyikan hanya 1 kali sekitar ½ menit. Untuk waktu shalat dibunyikan dengan ji peh tambo hanya 2 waktu, yaitu waktu Maghrib dan waktu Isya, lama tiap pukulan ½ menit. Di bulan puasa, untuk waktu sahur dipukul sebanyak 3 kali. Pertama untuk membangunkan ibu-ibu di rumah agar menyiapkan makanan, pukulan kedua untuk peringatan dan pukulan ketiga batas akhir Imsak. Untuk orang meninggal dipukul/dibunyikan 3 kali. 1 kali lamanya ½ menit.

Di wilayah Pidie, peh tambo (pemukulan tambo) untuk mengisyarakat ada orang meninggal, juga dipukul tiga kali. Caranya setiap pemukulan bunyi tambo juga 3 kali. Misalnya buk, buk, buk, selang ½ menit dibunyikan lagi secara terusan. Juga 3 kali bunyi, sampai pemukulan yang ketiga. Pemukulan yang seperti ini hanya diperuntukkan bila yang meninggal orang dewasa. Bila yang meninggal anak-anak atau balita, pemukulannya juga 3 kali. Setiap kali pukul mengeluarkan bunyi hanya 1 kali. Misalnya buk selang setengah menit di pukul lagi, buk, sampai 3 kali. Pada bulan puasa selain 1 kali dipukul (dibunyikan) pada saat berbuka puasa, juga waktu sahur, yang juga dipukul 3 kali, tiap ½ menit. Pada hari Jumat tambo ji peh (dipukul) pada jam 11, hanya 1 kali.

Sementara di wilayah Aceh Timur khususnya di kawasan Idi, untuk mengadakan rapat di meunasah dan juga untuk kepentingan gotong royong tambo ji peh (beduk dipukul/dibunyikan) hanya 1 kali selama ½ menit. Biasanya pemukulan tambo ini dilakukan pagi hari pada jam 8 atau jam 9. Peh tambo untuk pemberitahuan ada orang meninggal sama seperti yang dilakukan di Aceh Besar.

Untuk wilayah Aceh Besar, Pidie dan Aceh Timur (Idi) pada malam hari raya tambo dipukul/dibunyikan mulai sesudah shalat Isya, sampai pagi hari. Begitu juga pada pagi hari raya, tambo ji peh (dibunyikan) semenjak pagi sampai waktu shalat hari raya. Dan sesudah itu terus menerus dipukul sampai sore hari, selama 3 haridan yang melakukan peh tambo yaitu para remaja, ada juga orang tua dan anak-anak yang sudah sampai/bisa memegang gagang tambo, dengan macam gaya pemukulan yang mengeluarkan bunyi berbeda-beda, tergantung kelihaian dalam memainkan go tambo. Sehubungan dengan pemukulan peh tambo, pada hari raya ini pembuat artikel ini teringat suatu pantun Aceh, yang bunyinya :

Geudam-geudum tambo ji peh, tanda ka jadeh uroe raya

(Gedang-gedum bunyi tambo, yang menandakan hari raya telah tiba)

 

Dewasa ini tambo di Aceh sudah jarang digunakan, berbeda dengan di Jakarta (Betawi). Tambo ini masih marak digunakan. Kita masyarakat Aceh sekarang seharusnya iri terhadap masyarakat Betawi (Jakarta) yang masih tetap mempertahankan menggunakan tambo, meskipun mereka hidup dalam sebuah kota yang metropolitan. Hal ini tentunya sesuai dengan jiwa zaman, di mana tambo fungsinya telah diganti oleh bermacam teknologi yang mutakhir. Penulis menyadari bahwa seni budaya peh tambo ini sekarang di Aceh sudah sangat langka, dan bukan tidak mungkin seni budaya ini akan punah di telan masa. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kita perlu memberikan apresiasi/ salut yang telah menggagas, supaya tata cara peh tambo ini dilacak/dihidupkan kembali. Lebih-lebih untuk kunjungan wisatawan seperti yang dilakukan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.   

 

DAFTAR BACAAN

 

Aboe Bakar, Budiman Sulaiman, dkk. Kamus Aceh Indonesia. Jakarta: Pusat

                        Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, 1985

 

            Hoesein Djajadiningrat. Atjesch Nederlandsch Woordenboek, Batavia:

Landsdrukkerij, 1934

Kamisa, Kamus Lengkap Bahaa Indonesia, Surabaya: Kartika, 1997

Kreemer, J. Atjeh. Leiden; EJ. Brill, 1923

 

 

DAFTAR INFORMAN

 

1.      Nama                     :  Keuchik H. Adnan H Harun

Umur                     :  65 Tahun

Pekerjaan               :  Mantan Kepala Mukim Pagarayee

Tempat Tinggal     :  Gampong Lubok Batee, Pagarayee, Aceh Besar

 

2.      Nama                     :  M. Isa

Umur                     :  63 tahun

Pekerjaan               :  Tani

Tempat Tinggal     :  Idi, Aceh Timur

 

3.      Nama                     :  Abu Bakar (Abu Lahore)

Umur                     :  56 tahun

Pekerjaan               :  Budayawan, Anggota DKA

Tempat Tinggal     :  Pidie

 

 


[1] Rusdi Sufi sekarang menjabat sebagai Ketua Pemangku Adat pada Majelis Adat Aceh dan Perwakilan Stichting Peutjut Fonds Belanda di Indonesia / Aceh

Share this article