UTOH PEURAHO ACEH

by Admin
img


Penulis : Miftachhuddin Cut Adek, SE, M.Si


Lahirnya aturan adat-istiadat—sebagai kearifan lokal—di Aceh setidaknya dipengaruhi oleh dua faktor penting yakni nilai-nilai keagamaan, dan fakta empiris dari sebuah aktifitas. Begitu pula halnya dengan aktifitas profesi nelayan. Di dalam setiap komunitas nelayan di Aceh bisa dipastikan memiliki aturan adat lokal yang mengatur berbagai kegiatan nelayan itu sendiri.[1] Aturan adat itu dimulai dari pembuatan peraho, aturan mencari ikan dilaut, aturan memimpin nelayan dan aturan pemasaran ikan oleh muge dan toke bangku.


 


Nelayan adalah masyarakat yang bekerja melaut, baik menggunakan perahu dayung, perahu motor, maupun kapal motor. Sesuai dengan definisi kebahasaan, yaitu orang yang matapencaharian utamanya menangkap ikan,[2]. Tetapi proses kehidupan nelayan ini sangat erat kaitannya secara adat dan budaya serta profesi dengan proses-proses adat lainnya, seperti Utoh Peraho dan Toke Bangku. Walaupun kegiatan mereka tidak  tidak dapat disebut sebagai nelayan. Tapi aktifitas mereka erat kaitannya dengan  kehidupan masyarakat nelayan di Aceh. Dalam kehidupan sosial kepada komunitas nelayan yang bermukim diwilayah pesisir terdapat norma-norma tradisi yang hidup dan berkembang hingga kini.  Kebiasaan tersebut yaitu, tentang adat istiadat yang mengkultur dan menjadi rujukan bagi masyarakat nelayan wilayah pesisir Aceh.


Peraho bagi nelayan Aceh adalah jiwa mereka. Dan, para tukang adalah "pencipta" yang menitipkan ruhnya pada perahu-perahu itu. Selama bertahun-tahun tradisi ini terjaga. Pembuat peraho dikenal dengan istilah “Utoh” . Orang dulu tidak sembarangan memilih utoh untuk membuat perahunya.


 


Menurut Denys Lombard, dalam bukunya Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda (1607-1636), seorang tukang pembuat perahu termasuk golongan utama dalam masyarakat Aceh zaman dulu. Para tukang ini bertugas membuat kapal nelayan, yang merupakan profesi utama masyarakat Aceh pesisir. Para tukang ini pula yang bertugas membuat kapal- kapal perang, yang menjadikan Kesultanan Aceh disegani sebagai penguasa Selat Malaka dan pantai barat Sumatera.


 


Seorang tukang harus memilih sendiri kayu terbaik dari hutan yang akan digunakan untuk bahan perahu. Setelah dipilih hari terbaik, pohon itu baru boleh ditebang. Jatuhnya batang kayu akan menentukan kayu itu layak dipakai atau tidak. Ada perhitungan rasional, sekaligus ritual, yang mesti dilakukan sejak proses memilih kayu di hutan untuk lunas hingga saat perahu untuk pertama kali menyentuh air laut.


 


Adat Membuat Peraho Aceh


Adat dalam membuat satu perahu di Aceh dilaksanakan secara tiga tahap. Pertama dilaksanakan pada saat pengambilan bahan-bahan dari hutan. Tahap kedua ketika hendak mendirikan peraho Aceh dan tahap yang ketiga dilaksanakan upacara adat ketika Peraho Aceh telah siap untuk digunakan.


Sebagian besar bahan-bahan membuat peraho seperti lunas (lunah) dan genadeng dan papan dibuat di dalam hutan di mana bahan-bahan tersebut diambil, tujuannya tidak lain adalah untuk mempermudah pengangkutan bahan-bahan tersebut.


Dalam rangka pengangkutan kayu-kayu itu dari hutan biasanya disertai dengan melaksanakan upacara adat. Pengangkutan dilaksanakan secara bergotong-royong. Bahkan dalam upacara tersebut selalu disertai dengan pemotongan korban seperti sapi, kerbau, kambing dan sekurang-kurangnya pemotongan ayam atau itik. Tujuan dari pada pemotongan hewan korban tersebut adalah untuk menghindari terjadinya berbagai kemungkinan yang dapat menghalangi atau mempersulit pengambilan semua bahan perumahan tersebut.3 Di samping itu, tujuan pemotongan hewan korban itu tidak lain adalah untuk lebih semaraknya acara jamuan makan bagi semua yang ikut dalam bergotong-royong itu.


Seorang tukang harus memilih sendiri kayu terbaik dari hutan yang akan digunakan untuk bahan perahu. Setelah dipilih hari terbaik, pohon itu baru boleh ditebang. Jatuhnya batang kayu akan menentukan kayu itu layak dipakai atau tidak. Ada perhitungan rasional, sekaligus ritual, yang mesti dilakukan sejak proses memilih kayu di hutan untuk lunas hingga saat perahu untuk pertama kali menyentuh air laut.


 


Dalam hal ini, Tengku A. Rahman Kaoy, salah seorang tokoh adat Aceh, pernah mengemukakan bahwa, serorang tukang (utoh) dalam mencari kayu dan memilih kayu yang cocok untuk peuraho yang dibuatnya tidak sembaranagn, dia selalu di kekang oleh aturan-aturan yang harus dia laksanakan. Terdapat beberapa larangan adat yang harus dipatuhi oleh setiap orang, yaitu; Pertama, adalah jarak 1200 depa (kira-kira 600 meter) dari sumber mata air (danau, waduk, alue, dan lain-lain) tidak boleh atau terlarang dilakukan aktivitas penebangan dan pemanenan pohon. Bahkan untuk kepentingan raja sang penguasa sekalipun tetap tidak boleh. Tetapi menanam sangatlah dianjurkan.


 


Kedua, jarak 120 depa dari kiri-kanan sungai besar tidak boleh ditebang pohon, tidak boleh dimiliki, karena adalah milik adat yang manfaatnya juga untuk kepentingan bersama. Itu adalah untuk penyangga bencana dari datangnya banjir dan tanah longsor.


 


Ketiga, 60 depa dari kiri-kanan anak sungai (alue) tidak boleh ditebang pohon, namun menanamnya sangat dianjurkan sebagai milik bersama. Larangan ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian fungsi ekosistem kawasan sungai agar tidak terjadi banjir besar, karena air hujan yang deras diserap ke dalamnya dan terdapat dedaun yang menahan laju derasnya hujan hingga sampai kebawahpun air akan tertahan oleh tumpukan dedaunan yang mengendap jatuh hingga kepermukaan tanah.


 


Keempat tidak boleh ditebang pohon di puncak gunung dan daerah lereng yang terjal. Juga tak boleh ditebang pohon dipinggiran jurang yang jaraknya kira-kira dua kali kedalaman jurang. Larangan ini dimaksudkan agar tidak terjadinya longsor yang dapat merusak lingkungan, dan dapat pula menimbulkan kerugian bagi manusia itu sendiri.


 


Kelima para utoh harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu sebagai bahan baku. Biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 yang artinya rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka 7 berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik, lalu kepala tukang yang disebut "utoh" memimpin pencarian.


 


Keenam seorang utoh tidak boleh menggunakan kayu yang dipotong atau mengambil kayu yang ditebang diatas kuburan. Dan juga memotong kayu harus melihat air pasang dan surut dilaut. Untuk daerah Aceh bagian pesisir, seperti Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Barat dan Pidie, penebangan dan penarikan kayu harus ditentukan waktunya, tidak boleh pada waktu air sedang pasang, sebab apabila ditebang pada waktu air sedang pasang dapat menyebabkan kayu-kayu tersebut mudah dimakan rayap atau “bubuk”. Karenanya di daerah pesisisr setiap penebangan kayu untuk bahan perumahan terlebih dahulu harus membaca dan mengetahui dengan jelas perjalanan dan pergantian bulan, sehingga mudah mengetahui kapan air pasang dan kapan pula surutnya.5


 


Ketujuh Sebelum melakukan penebangan pohon yang akan dijadikan peuraho biasanya pohon tersebut di pesijuk terlebih dahulu dengan iringi oleh doa-doa selamat.


 


Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai (rajah), bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu.


Sebagaimana pada upacara pengambilan bahan dari hutan, maka pada upacara pemasangan lunah dan ule peraho (ro’k peraho) Pukat Aceh, juga diadakan penyembelihan hewan korban, disertai dengan acara makan bersama dengan mengundang para nelayan setempat dan keluarga. Dalam acara tersebut diadakan pula pembacaan do’a yang biasanya dipimpin oleh Tgk. Imam Meunasah atau Tgk. Imam Mesjid. Do’a ini merupakan sikap penyerahan diri (tawakal) kepada Allah SWT, serta memohon agar pembangunan peraho Aceh itu dapat berjalan dengan baik dan diharapkan dapat membawa berkah, mendapatkan hasil yang banyak dan ketenangan serta ketentraman bagi para nelayan.


Dalam upacara mendirikan ule peraho dan pemasangan lunah ada kegiatan penting yang harus dilakukan yaitu upacara “Peusijuk” dilaksanakan pada pagi harinya oleh si pemilik perahu  atau bisa juga diwakili oleh Tgk. Imam Meunasah atau Panglima Laot setempat. Kegiatan pokok dalam upacara ini adalah penepung tawaran lunah perago dan ule peraho dan sekaligus juga dilaksanakan penepung tawaran terhadap bahan-bahan perlengkapan peraho yang telah dipersiapkan sebelumnya ditempat itu.


Alat-alat yang dipergunakan dalam penepung tawaran terdiri dari “On sisejuk” atau (sineujuk) disebut juga “Daun Sidingin”, yaitu sejenis rumput yang daunnya agak lebar dan dingin, anak pohon pisang dicampur dengan bunga, ditambah dengan rumput atau “Naleung” yang dinamakan “Sambo”, yaitu sejenis rumput yang biasanya tumbuh dengan akar serabut yang sangat kuat dan sukar dicabut. Rumput ini dipergunakan langsung dengan akar-akarnya. Semua alat-alat tersebut diikat menjadi satu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah ayan kecil yang diisi air secukupnya. Pada tempat yang terpisah disediakan juga padi dan beras secukupnya.


Setelah peraho selesai, masih ada dua upacara adat lagi yang harus dilaksankan oleh pemilik pemilik peraho tersebut,  yaitu : “Upacara Peusijuk Utoh” (tukang) dan “Upacara Kenduri petron peraho. Upacara “Peusijuk Utoh” (penepung tawaran tukang) adalah sejenis upacara yang dilaksanakan oleh si pemilik peraho.Upacara ini mengandung berbagai arti, antara lain adalah sebagai ucapan terimakasih si pemilik peraho kepada tukang yang telah mengerjakan perahonya dengan baik hingga siap untuk melaut. Rasa terimakasih itu biasanya dinyatakan dalam bentuk penyerahan ongkos terakhir kepada utoh beserta hidangan makanan ala kadarnya kepadanya.


Dalam apacara kenduri peutron peraho, biasanya pemilik perago mengundang seluruh masyarakat nelayan dan anak yatim untuk menikmai kenduri yang telah disediakan disertai doa bersama tentunya setelah yang hadir menarik secara gotong rayong perahu tersebut ke sungai.


 


Penulis                         : Miftachhuddin Cut Adek, SE, M.Si

Jabatan                        : 1. Wakil Sekretaris Panglima Laot Aceh

                                    2. Anggota Pengurus Hukom Adat di MAA Prov. Aceh

Kontak Person              : (62) 085277341660

                          Email : miftach_plnad @yahoo.com


                          Fb      : miftach cut adek




[1] Biasanya sebuah komunitas nelayan yang berada dalam  sebuah wilayah teritorial tertentu yang disebut dengan “lhok”. Setiap wilayah teritorial terdiri dari sejumlah “teupin” (desa-desa pesisir) dan sebuah “kuala” (pelabuhan boat nelayan).

[2] Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit., hal. 779


Share this article